Stunting Bisa Dideteksi Dini Lewat Kurva Pertumbuhan WHO
Ilustrasi(magnific)

IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan para orangtua bahwa risiko stunting pada anak dapat dideteksi lebih dini. Kuncinya terletak pada pemantauan pertumbuhan secara rutin menggunakan kurva pertumbuhan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dokter Spesialis Anak sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr. dr. I Gusti Ayu Trisna Windiani, Sp.A., Subsp. T.K.P.S.(K), menjelaskan bahwa pemantauan ini bukan sekadar menimbang berat badan, melainkan sebuah proses berkelanjutan.

“Dengan melakukan pemantauan, kita bisa menemukan risiko penyimpangan pertumbuhan. Kita bisa menilai arah pertumbuhan anak dari waktu ke waktu, bukan hanya sekali ukur,” ujar Trisna dalam sebuah seminar daring, dikutip Kamis (6/8).

Pentingnya Dua Tahun Pertama

Trisna menekankan bahwa dua tahun pertama kehidupan adalah periode krusial yang menentukan kualitas masa depan anak. Pada masa ini, perkembangan otak terjadi sangat pesat dengan persentase sebagai berikut:







Usia Anak Persentase Perkembangan Otak
2 Tahun Sekitar 80%
3 Tahun Sekitar 85%
6 Tahun Sekitar 95%

Karena pesatnya perkembangan tersebut, penyimpangan pertumbuhan harus dikenali sedini mungkin agar intervensi berupa tata laksana medis, pemenuhan nutrisi, hingga stimulasi dapat segera diberikan.

Mengenali Gejala Awal: Weight Faltering

Menurut Trisna, stunting tidak terjadi secara mendadak. Kondisi ini biasanya diawali dengan perlambatan kenaikan berat badan atau yang dikenal dengan istilah weight faltering.

Jika weight faltering dibiarkan, anak akan masuk ke fase underweight (berat badan di bawah normal). Apabila kekurangan gizi akut ini terus berlanjut tanpa penanganan, maka pertumbuhan tinggi badan anak akan terganggu hingga akhirnya mencapai kondisi stunting.

Definisi Stunting: Kondisi ketika panjang atau tinggi badan anak menurut umur berada di bawah minus dua standar deviasi (-2 SD) berdasarkan kurva pertumbuhan.

Pemanfaatan Kurva Pertumbuhan WHO

Untuk memantau tren pertumbuhan ini, orang tua dapat memanfaatkan kurva pertumbuhan standar WHO yang sudah tersedia di dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).

Kurva ini merupakan acuan global untuk anak usia 0–5 tahun yang mengukur beberapa indikator utama:

  • Berat badan menurut umur.
  • Panjang atau tinggi badan menurut umur.
  • Indeks Massa Tubuh (IMT).

Pemantauan secara berkala memungkinkan tenaga medis dan orangtua melihat “Z-score” atau simpangan baku untuk menilai apakah status gizi anak masuk dalam kategori normal, kurang, atau berlebih.

“Lakukan pemantauan ini secara rutin agar kita bisa melakukan pencegahan maupun intervensi sebelum masalah menjadi lebih berat,” tutup Trisna. (Ant/Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *