Pertumbuhan Ekonomi Kehilangan Momentum, Ekspor masih Tertekan
Ilustrasi(Antara)

KEPALA Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata, Faisal Rachman, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai kehilangan momentum pada triwulan II 2026. Menurutnya, perlambatan konsumsi rumah tangga setelah periode Ramadan dan Idulfitri, serta masih lemahnya kinerja ekspor akibat tekanan global, menjadi faktor utama yang menahan laju pertumbuhan ekonomi.

“Perekonomian Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan II 2026, melambat dibandingkan 5,61% yoy pada triwulan I 2026,” kata Faisal dalam keterangannya, Rabu (5/8).

Menurut Faisal, perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh normalisasi konsumsi rumah tangga setelah lonjakan belanja pada Ramadan dan Idulfitri di triwulan I 2026. Selain itu, pertumbuhan tahunan juga dipengaruhi efek basis yang tinggi (high base effect) karena pada tahun lalu Hari Raya Idulfitri berlangsung pada triwulan II. Akibatnya, pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat menjadi 5,06% yoy dari 5,52% yoy pada triwulan sebelumnya.

Meski demikian, konsumsi masyarakat tetap ditopang oleh musim libur sekolah, berlanjutnya implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pertumbuhan ekonomi digital yang masih berlanjut.

Di sisi eksternal, ekspor neto masih menjadi faktor penekan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Kinerja ekspor masih tertekan akibat tingginya ketidakpastian global dan lemahnya permintaan dari pasar internasional. Sementara itu, impor tetap tumbuh relatif kuat seiring permintaan domestik yang masih solid dan didukung berbagai stimulus pemerintah.

Faisal menilai konsumsi pemerintah tetap menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. Meskipun melambat menjadi 15,97% yoy dari 21,81% yoy pada triwulan I 2026, belanja pemerintah masih tumbuh dua digit, terutama didorong oleh pencairan gaji ke-13 aparatur sipil negara (ASN) dan keberlanjutan Program MBG. 

“Belanja tersebut berperan penting dalam menjaga pertumbuhan sekaligus meredam dampak perlambatan ekonomi global,” kata Faisal.

Sementara itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi meningkat menjadi 6,87% yoy dari 5,96% yoy pada triwulan sebelumnya. Peningkatan investasi terutama berasal dari pembelian kendaraan untuk mendukung pelaksanaan Program MBG dan inisiatif Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Dari sisi lapangan usaha, sektor pengadaan listrik dan gas mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 10,81% yoy, didukung meningkatnya konsumsi listrik rumah tangga dan dunia usaha. Sektor akomodasi dan makanan-minuman tumbuh 10,60% yoy, seiring meningkatnya permintaan yang berkaitan dengan Program MBG. Adapun sektor informasi dan komunikasi tumbuh 6,97% yoy berkat terus berkembangnya ekonomi digital.

Di sisi lain, pertumbuhan sektor industri pengolahan melambat menjadi 4,52% yoy dari 5,04% yoy pada triwulan sebelumnya. Meski melambat, sektor ini tetap menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi 0,90 poin persentase (ppt), disusul sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 0,83 ppt serta sektor konstruksi sebesar 0,62 ppt.

Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 5,45% yoy, lebih tinggi dibandingkan 4,99% yoy pada periode yang sama tahun lalu.

Proyeksi Pertumbuhan masih di Atas 5%

Faisal memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 masih akan lebih tinggi dibandingkan 2025. Namun, momentum pertumbuhan diperkirakan melambat secara bertahap pada paruh kedua tahun ini karena meningkatnya risiko dari sektor eksternal.

Menurutnya, permintaan domestik masih akan menjadi penopang utama melalui kebijakan fiskal yang ekspansif. Pemerintah juga masih mempertahankan harga energi bersubsidi di tengah tingginya harga energi global akibat ketegangan geopolitik, sehingga inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat terjaga. Namun, kebijakan tersebut dinilai hanya dapat dipertahankan dalam jangka pendek karena ruang fiskal berpotensi semakin terbatas.

Di sisi lain, tekanan eksternal diperkirakan meningkat akibat perang dagang yang berkepanjangan, ketegangan geopolitik, serta pemulihan ekonomi Tiongkok yang masih lemah. Kondisi tersebut diperkirakan akan terus menekan permintaan ekspor Indonesia, sementara impor tetap meningkat seiring kuatnya permintaan domestik. Akibatnya, kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan ekonomi diperkirakan semakin mengecil.

Faisal juga mengingatkan pemerintah dan Bank Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan stabilitas makroekonomi. Berlanjutnya tekanan eksternal berpotensi memperlebar defisit kembar (twin deficits), baik melalui defisit transaksi berjalan maupun defisit fiskal. Kondisi tersebut dapat memicu arus keluar modal, meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, dan membatasi kemampuan ekonomi mempertahankan pertumbuhan yang lebih tinggi.

Secara keseluruhan, Faisal memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,26% pada 2026, lebih tinggi dibandingkan proyeksi 5,11% pada 2025. Namun, risiko penurunan masih mendominasi. Pertumbuhan berpotensi lebih tinggi apabila tekanan global mereda dan reformasi struktural berjalan efektif, sedangkan pertumbuhan bisa lebih rendah apabila pemerintah gagal menjaga keseimbangan antara kebijakan pro-pertumbuhan dan stabilitas ekonomi, sehingga mendorong Bank Indonesia memperketat kebijakan moneter melalui kenaikan BI-Rate. (E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *