
BAGI para orangtua yang memiliki anak dengan alergi makanan, momen-momen rutin dalam keseharian sering kali berubah menjadi situasi yang menegangkan. Mulai dari camilan di sekolah hingga acara ulang tahun, risiko paparan yang tidak disengaja selalu membayangi.
Namun, kabar gembira kini hadir dari penelitian terbaru yang dipimpin Stanford Medicine. Studi ini menemukan anak-anak yang menderita alergi terhadap lebih dari satu jenis makanan memiliki lebih dari satu jalur pengobatan yang aman. Terapi ini tidak hanya memberikan perlindungan dari paparan tidak sengaja, tetapi juga memungkinkan mereka untuk kembali mengonsumsi makanan pemicu tersebut secara aman.
Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Pediatrics, alergi makanan memengaruhi sekitar 8% anak-anak di Amerika Serikat, di mana 40% di antaranya bereaksi terhadap lebih dari satu jenis makanan. Pemicu umum meliputi gandum, susu, telur, kacang tanah, dan kacang pohon, bahan-bahan yang sangat sulit dihindari dalam makanan kemasan.
Dalam uji klinis tersebut, para peneliti mengamati 117 anak dengan usia median 7 tahun selama satu tahun. Seluruh peserta memiliki alergi kacang tanah ditambah dua jenis makanan lainnya. Anak-anak ini dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menerima pengobatan obat injeksi omalizumab selama satu tahun penuh, sedangkan kelompok kedua menerima obat tersebut selama delapan minggu yang dilanjutkan dengan imunoterapi oral. Imunoterapi oral sendiri dilakukan dengan mengonsumsi dosis kecil makanan pemicu setiap hari untuk meningkatkan toleransi secara bertahap.
Di akhir masa uji coba, sebanyak 36% anak pada kelompok yang hanya menerima obat berhasil mengonsumsi porsi penuh dari tiga makanan pemicu secara aman, dibandingkan dengan 19% pada kelompok gabungan imunoterapi oral. Perbedaan persentase ini terjadi karena lebih banyak peserta pada kelompok imunoterapi oral yang mengundurkan diri akibat efek samping serta komitmen waktu yang tinggi.
Sharon Chinthrajah, MD, profesor kedokteran dan pediatri di Stanford Medicine, menjelaskan pengobatan gabungan sebenarnya sama efektifnya bagi mereka yang mampu menjalankannya.
“Bagi orang-orang yang dapat mematuhi pendekatan pengobatan gabungan, mereka sama suksesnya dengan pasien yang hanya menggunakan omalizumab,” ujar Chinthrajah.
“Penting bagi tim kami untuk memahami lebih baik alasan orang-orang menghentikan pengobatan sehingga kami dapat menyesuaikan setiap pendekatan,” tambahnya.
Sayantani Sindher, MD, penulis lain dalam studi tersebut, menegaskan pentingnya fleksibilitas dalam memilih jenis terapi.
“Studi ini sangat membesarkan hati karena menunjukkan bahwa kita memiliki pilihan pengobatan untuk para orang tua yang aman dan tidak terlalu memberatkan,” tutur Sindher.
Studi ini membuktikan bahwa tidak ada satu solusi yang berlaku untuk semua orang (one-size-fits-all). Dokter kini dapat menyesuaikan rencana terapi berdasarkan kebutuhan, tujuan, dan tingkat kecemasan masing-masing keluarga. Kehadiran opsi seperti omalizumab maupun imunoterapi oral menjadi alasan kuat bagi para orang tua untuk mendiskusikan metode pengobatan terbaru ini pada kunjungan medis berikutnya. (Parents/Z-2)
