
MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar mendukung penuh rencana pembangunan kompleks rumah ibadah enam agama yang diakui negara di lingkungan Universitas Indonesia (UI). Keberadaan kawasan terpadu ini dinilai dapat menjadi contoh nyata kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk sekaligus memperkuat nilai toleransi di kalangan mahasiswa.
Dukungan tersebut disampaikan Menag saat menerima kunjungan Rektor UI, Heri Hermansyah, di Kantor Pusat Kementerian Agama, Jakarta, Senin (3/8). Dalam pertemuan tersebut, keduanya membahas perkembangan rencana pembangunan kawasan multifaith tersebut.
Nasaruddin menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter generasi muda karena menjadi tempat bertemunya mahasiswa dari berbagai latar belakang budaya dan agama.
“Kita ingin mahasiswa melihat secara langsung bagaimana kerukunan itu dipraktikkan. Mereka tidak hanya membaca tentang toleransi, tetapi juga menyaksikan bagaimana umat beragama berbagi ruang secara setara dan harmonis. Kampus harus jadi etalase kerukunan,” kata Menag.
Bagi Menag, proyek ini bukan sebatas pembangunan fisik, melainkan sebuah pesan kuat tentang kemampuan bangsa menjaga keharmonisan.
“Bagi saya, ini bukan sekadar membangun gedung. Ini membangun pesan kepada dunia bahwa Indonesia mampu merawat keberagaman dalam satu ruang yang setara. Kerukunan harus bisa dilihat, dirasakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tegasnya.
Desain Setara dan Tantangan Pendanaan
Pada kesempatan yang sama, Rektor UI Heri Hermansyah menjelaskan bahwa kawasan rumah ibadah ini akan dibangun di area kampus yang terhubung dengan fasilitas publik agar mudah diakses. Selain untuk sarana ibadah, lokasi tersebut dirancang sebagai ruang interaksi dan dialog lintas agama bagi seluruh sivitas akademika.
Menurut Heri, langkah ini sejalan dengan identitas UI yang membawa nama besar bangsa.
“Universitas Indonesia adalah satu-satunya perguruan tinggi yang menggunakan nama Indonesia. Karena itu, kami ingin menghadirkan simbol yang mencerminkan wajah Indonesia yang sesungguhnya, yakni keberagaman yang hidup berdampingan secara harmonis,” ujar Heri.
Ia menambahkan, desain kawasan telah dirancang proporsional dengan mengedepankan prinsip kesetaraan, lengkap dengan ruang bersama untuk perjumpaan antarumat beragama.
Meski demikian, Heri mengakui bahwa pendanaan masih menjadi tantangan utama. Untuk merealisasikan proyek ini, UI bersama Kementerian Agama membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari lembaga filantropi, dunia usaha, organisasi sosial, hingga para dermawan.
Jika berhasil diwujudkan, kompleks ini akan menjadi salah satu kawasan multifaith terbesar di lingkungan perguruan tinggi di Indonesia sekaligus menjadi inspirasi kampus inklusif bagi perguruan tinggi lainnya. (Z-1)
