Prediksi Inflasi Juli 2026 Melandai ke 3,08 Persen, Dipicu Penurunan Harga Pangan
Kelangkaan elpiji sebabkan Inflasi di Sulawesi Tenggara: Warga mengambil elpiji 3 kilogram saat operasi pasar elpiji di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (2/7/2026).(Antara)

INFLASI tahunan Indonesia pada Juli 2026 diperkirakan mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya. Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Pertama, Faisal Rachman, memperkirakan inflasi tahunan akan turun menjadi 3,08% secara tahunan (year-on-year/yoy), dari posisi 3,34% pada Juni 2026.

“Inflasi diproyeksikan melambat dari 3,34 persen (yoy) pada Juni 2026 menjadi 3,08 persen (yoy) pada Juli 2026,” kata Faisal di Jakarta, Minggu.

Secara bulanan (month-to-month/mtm), laju inflasi juga diperkirakan menurun. Setelah mencapai 0,44% pada Juni 2026, inflasi Juli diproyeksikan hanya berada di level 0,05%.

Faisal menjelaskan bahwa perlambatan inflasi terutama dipengaruhi oleh pergerakan komponen harga bergejolak (volatile food) yang menunjukkan tren penurunan.

Mengacu pada data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), Bank Permata memperkirakan harga sejumlah komoditas pangan mulai mengalami moderasi. Beberapa di antaranya meliputi telur ayam, bawang merah, cabai merah, serta cabai rawit.

Penurunan harga komoditas tersebut diperkirakan mampu mengimbangi kenaikan harga beberapa bahan pangan lain, seperti beras, daging ayam, daging sapi, dan bawang putih.

Sementara itu, inflasi pada kelompok harga yang diatur pemerintah (administered price) diprediksi tetap bergerak dalam kisaran yang moderat.

Di satu sisi, kenaikan tarif tiket pesawat selama periode libur sekolah serta normalisasi pajak pertambahan nilai (PPN) setelah berakhirnya kebijakan pajak ditanggung pemerintah (DTP) diperkirakan memberikan tekanan terhadap inflasi pada kelompok ini.

Namun, di sisi lain, penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi serta elpiji nonsubsidi ukuran 12 kilogram dan 5,5 kilogram diperkirakan menjadi faktor yang menahan kenaikan inflasi harga yang diatur pemerintah.

Untuk inflasi inti, Bank Pertama memperkirakan kenaikan secara bulanan akan lebih rendah dibandingkan pencapaian pada Juni 2026.

“Meskipun kenaikan harga musiman pada barang dan jasa terkait pendidikan dan rekreasi diperkirakan terjadi, penurunan harga emas diperkirakan akan membantu menahan laju inflasi inti,” ujar Faisal.

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan data resmi inflasi Juli 2026 pada Senin (3/8).

Selain data inflasi, BPS juga akan merilis sejumlah indikator ekonomi penting lainnya, antara lain data ekspor dan impor Juni 2026, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Juli 2026, Nilai Tukar Petani (NTP) Juli 2026, perkembangan sektor pariwisata Juni 2026, perkembangan transportasi Indonesia Juni 2026, serta hasil Kerangka Sampel Area (KSA) mengenai luas panen dan produksi padi maupun jagung hingga Juni 2026. (Ant/E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *