Mitos Kanker Serviks hanya Serang Perempuan Menikah, Ini Penjelasan Dokter
Lambang kepedulian pada kanker serviks.(Dok. Magnific)

ANGGAPAN bahwa risiko kanker serviks hanya menghantui perempuan yang sudah menikah atau aktif secara seksual secara medis adalah mitos. Dokter subspesialis Bedah Onkologi, dr. I Gusti Ayu Nari Laksmi Dewi, menegaskan bahwa perempuan yang belum menikah pun tetap memiliki risiko terkena kanker leher rahim tersebut.

“Yang belum menikah juga masih punya risiko untuk terkena (kanker serviks), tetap kena. Walaupun dia di bawah 17 tahun dan belum pernah seksual aktif,” ujar dr. Gusti Ayu saat ditemui di Kaiser Cancer Center, BSD City, Tangerang, Kamis (30/7).

Kanker serviks sendiri merupakan keganasan yang muncul pada bagian bawah rahim yang terhubung ke vagina. Penyebab utamanya adalah infeksi Human Papillomavirus (HPV), virus yang umumnya menular melalui kontak seksual. Meski risiko meningkat pada mereka yang aktif secara seksual, dr. Gusti menekankan bahwa pencegahan sejak dini tetap diperlukan bagi semua perempuan tanpa memandang usia.

Vaksinasi HPV dan Pemeriksaan Lanjutan

Salah satu langkah pencegahan utama adalah vaksinasi HPV. Namun, dr. Gusti juga meluruskan mitos lain yang menyebutkan bahwa seseorang yang sudah divaksin tidak perlu lagi melakukan pemeriksaan lanjutan.

Ia menjelaskan bahwa vaksin HPV memberikan perlindungan optimal hingga 95 persen jika diberikan pada anak di bawah usia 17 tahun. Bagi perempuan yang sudah menikah, vaksin tetap bermanfaat meski tingkat perlindungannya menurun dibandingkan pemberian di usia dini.

“Jadi walaupun sudah pernah mendapatkan vaksin HPV, tetap harus melakukan pap smear apabila sudah menikah,“ tutur dokter lulusan Universitas Airlangga yang berpraktik di RSUD Pasar Minggu tersebut.

Program Nasional Vaksinasi HPV

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) saat ini telah menyediakan vaksin HPV secara gratis bagi anak perempuan kelas 5 dan 6 SD. Program ini diintegrasikan melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang dilaksanakan setiap Agustus dan November.

Sasaran program nasional ini adalah anak usia 11 dan 12 tahun dengan pemberian sebanyak dua dosis. Pemerintah menargetkan cakupan vaksinasi HPV mencapai 90 persen pada tahun 2030, baik untuk anak perempuan maupun laki-laki.

Statistik Kanker Serviks di Indonesia:

  • Sekitar 36.000 kasus baru setiap tahun.
  • Hampir 60 persen kasus berakhir dengan kematian.
  • Rata-rata 56 perempuan meninggal setiap hari akibat penyakit ini.

Pemberian vaksin HPV dinilai sangat krusial untuk menekan angka kematian akibat kanker leher rahim, mengingat beban kesehatan yang sangat berat bagi Indonesia akibat penyakit ini. (Ant/H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *