Rendahnya Literasi Keuangan Remaja Jadi Sorotan, Kolaborasi Perkuat Kapasitas Guru
Ilustrasi(Dok Istimewa)

RENDAHNYA tingkat literasi keuangan di kalangan remaja Indonesia menjadi perhatian di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas 

sumber daya manusia (SDM) menuju Indonesia Emas 2045.

Penguatan kapasitas guru menjadi salah satu langkah strategis untuk membangun budaya pengelolaan keuangan yang sehat sejak usia sekolah.

Sejalan dengan implementasi Kurikulum Merdeka, materi literasi keuangan kini menjadi bagian dari pembelajaran ekonomi di tingkat SMA yang tidak hanya menekankan pemahaman konsep, tetapi juga penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, guru memegang peran penting dalam membentuk kebiasaan finansial siswa sejak dini.

Urgensi penguatan edukasi ini tercermin dari hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS), yang menunjukkan indeks literasi keuangan kelompok usia 15–17 tahun baru mencapai 51,68%. Angka tersebut masih berada di bawah indeks literasi keuangan nasional yang mencapai 66,46%.

Merespons tantangan itu, PT FWD Insurance Indonesia menghadirkan program FWD Financial Literacy for Educators untuk memperkuat kompetensi guru dalam menyampaikan materi literasi keuangan kepada siswa.

Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance Rudy F Manik mengatakan guru memiliki posisi strategis dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu mengelola keuangan secara bijak.

“Melalui FWD Financial Literacy for Educators, kami ingin memperkuat kapasitas guru dengan memberikan pembekalan pembelajaran keuangan yang relevan agar dapat menumbuhkan kebiasaan finansial yang sehat pada siswa,” ujar Rudy, Selasa (21/7/2026).

Ia menjelaskan program yang berlangsung pada Februari hingga Juni 2026 ini melibatkan 30 guru ekonomi SMA dari berbagai sekolah di Jakarta. Melalui para guru tersebut, materi literasi keuangan diharapkan dapat menjangkau sekitar 2.700 siswa dengan pendekatan lebih aplikatif dan sesuai kebutuhan generasi muda.

Dalam pelaksanaannya, kata dia, program dikembangkan bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI), mulai dari penyusunan modul pembelajaran, pelatihan, hingga pengembangan materi asesmen sebagai bagian dari proses sertifikasi guru.

Relawan FWD Insurance juga terlibat dalam penyusunan materi dan evaluasi untuk memastikan pembelajaran tetap relevan dengan kondisi di ruang kelas.

Sebagai bentuk apresiasi atas komitmen para peserta, FWD Insurance juga menggelar FWD Financial Literacy for Educators Appreciation Day bagi para guru yang menyelesaikan rangkaian pelatihan dan sertifikasi.

Ketua Subkelompok Kurikulum dan Penilaian Bidang SMA Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Joko Arwanto menilai kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor swasta menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di bidang literasi keuangan.

Menurutnya, program tersebut menunjukkan bagaimana sinergi lintas sektor dapat memperkuat kapasitas guru sehingga materi literasi keuangan dapat disampaikan secara lebih efektif kepada para siswa.

Senada, Deputi Direktur Pelaksanaan Edukasi Keuangan OJK Halimatus Sa’diyah menegaskan peningkatan literasi keuangan harus dilakukan secara berkelanjutan sejak usia dini. Guru berperan besar dalam memperluas jangkauan edukasi keuangan kepada generasi muda agar mampu mengambil keputusan finansial secara lebih bijak di masa depan. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *