
INDUSTRI keramik nasional mulai bergerak meninggalkan persaingan berbasis harga. Lewat pengembangan teknologi baru, material bangunan kini tidak hanya dituntut kuat dan tahan lama, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman visual serta nilai desain yang lebih tinggi.
Salah satu contoh transformasi tersebut terlihat dari pengembangan sintered stone dengan teknologi Bio Luminance, sebuah inovasi yang memungkinkan bagian urat pada permukaan material memancarkan cahaya setelah terpapar sinar ultraviolet (UV). Teknologi ini bahkan mendapat pengakuan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai batu sinter pertama dengan efek bio luminesensi.
Inovasi tersebut diperkenalkan Platinum Ceramics Group dalam ajang IndoBuildTech Expo 2026. Namun bagi perusahaan, pameran tersebut bukan sekadar ajang penjualan, melainkan ruang untuk menunjukkan arah perkembangan industri material bangunan ke depan.
“Di sini kita nggak jualan, Pak. Jadi di sini memang kita cuma show produk-produk kita, inovasi-inovasi terbaru kita,” ujar Liem May Tjoe, CEO Platinum Ceramics Group.
Menurut Liem, perjalanan industri keramik selama lebih dari lima dekade membuat perusahaan perlu terus beradaptasi. Produk keramik, kata dia, kini tidak lagi hanya dinilai dari motif, warna, dan daya tahan, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan pengalaman baru dalam sebuah ruang.
Dari Material Bangunan Menjadi Elemen Desain
Pengembangan teknologi Bio Luminance membutuhkan waktu hampir satu tahun sebelum diperkenalkan kepada publik. Teknologi tersebut saat ini baru diterapkan pada dua motif sintered stone.
Selain itu, perusahaan juga memperkenalkan material bernama Artisan Translucent, yang dirancang untuk memberikan kesan bercahaya meski tanpa tambahan sumber pencahayaan.
Perubahan ini mencerminkan tren baru dalam industri interior, ketika material mulai diposisikan bukan hanya sebagai elemen konstruksi, tetapi juga sebagai bagian dari desain dan atmosfer ruang.
“Ini benar-benar baru diluncurkan, baru kali ini kita show, jadi belum sama sekali ada di pasaran,” kata Liem.
Melawan Tekanan Produk Impor Lewat Inovasi
Transformasi teknologi menjadi salah satu strategi industri keramik nasional menghadapi tekanan produk impor, terutama dari negara dengan kapasitas produksi besar seperti China dan India.
Liem menilai kebijakan pemerintah melalui penerapan antidumping serta penguatan regulasi Standar Nasional Indonesia (SNI) membantu memberikan ruang bagi produsen lokal untuk berkembang.
“Kondisinya sekarang keramik di Indonesia untuk tahun ini cukup bagus, karena pemerintah sekarang men-support kita. Ada antidumping, kemudian regulasi SNI juga sangat men-support sehingga produk-produk impor itu nggak banyak masuk dan produk-produk lokal berkembang,” ujarnya.
Meski demikian, ia menyebut industri masih menghadapi tantangan, terutama terkait biaya energi dan distribusi yang memengaruhi daya saing manufaktur.
AI Mulai Masuk ke Lini Produksi
Selain inovasi produk, transformasi industri keramik juga mulai masuk ke sisi manufaktur. Perusahaan mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk membantu proses pengendalian kualitas.
“Kalau produksi sama kualitas kelihatannya AI ada sedikit di pabrik. Kita ngecek defect motif pakai AI sedikit,” ujar Liem.
Teknologi tersebut digunakan untuk membantu mendeteksi cacat pada motif keramik secara otomatis sehingga proses pemilahan produk dapat dilakukan lebih cepat dan akurat.
Di sisi desain, AI juga mulai digunakan sebagai alat bantu eksplorasi ide. Namun, keputusan akhir tetap berada pada desainer untuk memastikan hasil sesuai dengan karakter produk yang ingin dikembangkan.
Dorong Produk Lokal Berdaya Saing Global
Di tengah pengembangan teknologi baru, perusahaan menyebut sebagian besar bahan baku sintered stone masih berasal dari dalam negeri. Material seperti clay dan feldspar dipasok dari sejumlah wilayah di Indonesia, sementara sebagian kecil bahan khusus untuk menghasilkan efek fosfor pada Bio Luminance masih didatangkan dari luar negeri.
Menurut Liem, inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya membuktikan bahwa industri keramik Indonesia mampu bersaing di tingkat global.
“Tujuan kita bikin inovasi ini untuk menunjukkan bahwa industri keramik lokal bisa sejajar dengan industri tile di luar negeri seperti di Eropa. Kita ingin menunjukkan bahwa kita nggak kalah dengan industri dari negara lain,” ujarnya.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa masa depan industri keramik tidak lagi hanya ditentukan oleh kapasitas produksi, tetapi juga kemampuan menciptakan teknologi, desain, dan pengalaman baru bagi pengguna. (Z-10)
