
PEMERINTAH Indonesia selama periode Januari sampai Juni 2026 mencatatkan proyeksi produksi beras dalam negeri yang melampaui kebutuhan konsumsi beras nasional. Torehan surplus tersebut mesti diantisipasi pemerintah dengan memastikan harga di tingkat petani tidak anjlok terlalu dalam.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan pemerintah telah memberikan jaring pengaman harga bagi petani berupa kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen (GKP) minimal di Rp 6.500 per kilogram (kg) yang terus dijalankan melalui Perum Bulog.
“Caranya adalah kebijakan harga pangan di tingkat petani. Harga gabah, kita jaga Rp 6.500. Harga sudah selesai. Harganya sudah dinaikkan. HPP pemerintah yang membuat petani bahagia, itu Rp 6.500 per kilo,” sebut Amran dikutip dari keterangan tertulis yang diterima, Sabtu (4/7).
Amran menambahkan bahwa saat ini Indonesia telah mencatat adanya surplus produksi terhadap konsumsi beras di 2026. Untuk triwulan pertama, total produksi beras Januari-Maret mencapai 9,63 juta ton. Sementara kebutuhan konsumsi untuk periode yang sama ada di 7,76 juta ton. Artinya terdapat surplus sebanyak 1,86 juta ton, sedangkan total penyerapan setara beras oleh Bulog pada triwulan pertama di angka 1,46 juta ton, sehingga masih menyisakan 400,8 ribu ton yang dapat diserap swasta untuk tambahan stok.
Sementara untuk triwulan kedua, total produksi beras diperkirakan dapat mencapai 9,64 juta ton. Angka tersebut juga masih melebihi kebutuhan konsumsi beras April-Juni yang 7,72 juta ton. Surplus produksi terhadap konsumsi berada dinangka 1,92 juta ton dan Bulog telah menyerap setara beras hingga 1,83 juta ton dari April sampai Juni.
Secara keseluruhan, total produksi beras selama Januari-Juni diperkirakan dapat mencapai 19,27 juta ton. Kebutuhan konsumsi beras Januari-Juni 15,48 juta ton. Hal itu menandakan bahwa surplus produksi terhadap konsumsi Januari-Juni berada di angka 3,79 juta ton.
Sementara, realisasi penyerapan setara beras dari produksi dalam negeri yang dilaksanakan Bulog selama semester pertama ini telah mencapai sebanyak 3,3 juta ton. Masih ada surplus 483,9 ribu ton yang dapat diserap pihak swasta untuk tambahan stok mereka.
Kondisi gabah dan beras nasional seperti hari ini patut dijaga demi menjaga semangat petani padi Indonesia. Pemerintah tidak ingin terjadi demotivasi bagi petani padi dalam negeri akibat harga yang kurang ideal. Apabila Indonesia telah meraih swasembada beras.
“Orang tertentu meneriakkan mahal, dia tidak melihat negara lain. Kenapa? Karena kalau ini mahal (lalu) kita turunkan, petani (bisa sampai) berhenti tanam. Tiba-tiba berhenti petani tanam karena demotivasi, karena petani rugi. (Kalau) petani berhenti tanam, kita (malah harus) impor seperti tahun 2023 dan 2024 (sampai) 7 juta ton,” ungkap Amran.
Ia memastikan pangan Indonesia telah bersiap menghadapi musim kekeringan di tahun ini. Stok beras nasional, termasuk stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) berada di posisi yang sangat kuat.
“Kalau bulan Agustus sampai September, memang musim kering. Juni itu awal musim kering. (Lalu) Juli dan Agustus, karena kami tahu, karena harian kami ikuti curah hujan. Jadi insya Allah pangan kita aman, terutama beras,” pungkas Amran. (Fal/P-3)
