
Spons laut selama ini dikenal sebagai salah satu makhluk hidup paling primitif dan sederhana di planet ini. Sebagai hewan multiseluler yang menetap di dasar laut, mereka bertahan hidup dengan cara menyaring air untuk menangkap bakteri dan partikel organik kecil sebagai makanan.
Namun, sebuah penelitian terbaru mengungkap fakta mencengangkan: beberapa spesies spons laut ternyata mampu menghasilkan makanan mereka sendiri langsung dari sinar matahari, mirip seperti fungsi tumbuhan.
Kemampuan luar biasa ini mematahkan asumsi lama para ilmuwan mengenai keterbatasan biologis dari spons laut. Melalui analisis mendalam terhadap jaringan tubuh mereka, para peneliti menemukan adanya hubungan simbiosis yang sangat erat dan kompleks antara spons laut dengan mikroorganisme fotosintetik yang hidup di dalam tubuh mereka.
Rahasia Aliansi dengan Mikroba Fotosintetik
Spons laut tidak melakukan fotosintesis secara mandiri melalui kloroplas layaknya daun tumbuhan hijau. Sebagai gantinya, mereka bertindak sebagai “tuan rumah” bagi miliaran mikroba khusus, seperti sianobakteri atau alga uniseluler.
Mikroba yang menetap di dalam jaringan spons ini menangkap sinar matahari yang menembus perairan dangkal, lalu mengubahnya menjadi energi kimia dalam bentuk karbon organik dan gula. Energi hasil fotosintesis tersebut tidak dinikmati sendiri oleh mikroba, melainkan dibagikan secara langsung kepada spons laut sebagai sumber nutrisi utama mereka.
Sebagai imbalannya, spons laut memberikan perlindungan yang aman bagi mikroba dari ancaman predator, sekaligus menyuplai limbah metabolisme berupa amonia dan karbon dioksida yang sangat dibutuhkan oleh mikroba untuk melakukan proses fotosintesis. Hubungan saling menguntungkan (mutualisme) ini memungkinkan spons laut untuk tumbuh subur, bahkan di lingkungan perairan tropis yang miskin akan nutrisi organik terlarut.
Dampak Besar bagi Ekosistem Terumbu Karang
Penemuan ini memberikan pandangan baru yang sangat penting bagi para ahli biologi laut dalam memahami dinamika rantai makanan di ekosistem laut. Keberadaan spons laut yang mampu memanfaatkan energi matahari ini berfungsi sebagai “pabrik energi” tambahan di dasar laut.
Dengan memproduksi materi organik dari sinar matahari, spons-spons ini ikut berkontribusi dalam menjaga ketersediaan nutrisi bagi organisme laut lainnya yang hidup di sekitar terumbu karang. Ketika spons melepas sel-sel tuanya atau menghasilkan lendir organik, materi tersebut menjadi sumber makanan penting bagi kepiting, cacing laut, dan ikan-ikan kecil.
Studi ini membuktikan bahwa strategi bertahan hidup dengan memanfaatkan energi matahari bukanlah monopoli dunia tumbuhan atau alga saja. Aliansi purba antara spons laut dan mikroba ini menjadi bukti nyata kehebatan adaptasi evolusi satwa laut dalam mengarungi perubahan lingkungan selama ratusan juta tahun. (Earth/Z-2)
