Identifikasi Massal Korban Gempa Venezuela, Perjuangan Keluarga di Kamar Mayat Darurat
Korban jiwa gempa kembar Venezuela melampaui 2.600 orang. Simak perjuangan memilukan ribuan keluarga mengidentifikasi jenazah di tengah keterbatasan.(BBC Mundo)

SEBUAH fasilitas penyimpanan pelabuhan di Los Silos, La Guaira, kini dialihfungsikan menjadi kamar mayat darurat. Tempat ini menjadi saksi bisu kepedihan mendalam yang terus berulang pascagempa bumi kembar yang mengguncang Venezuela.

Hingga sembilan hari setelah gempa, jumlah korban tewas telah melampaui 2.600 jiwa. Skala bencana yang masif ini melumpuhkan layanan lokal, memaksa otoritas setempat berimprovisasi. Ratusan jenazah terpaksa dideretkan di bawah terik matahari dengan bungkus plastik, membuat proses pembusukan berjalan sangat cepat.

Di tengah sengatan panas, antrean keluarga terselimuti keheningan dan kecemasan. Petugas bersenjata dari Angkatan Bersenjata Bolivarian berjaga ketat di akses masuk. Di dalam fasilitas, bau menyengat langsung menyambut. Tim forensik bekerja keras mengandalkan catatan gigi, sementara sebuah tenda di ujung area menyediakan layanan kremasi gratis.

Untuk proses identifikasi, sebagian kerabat dibawa ke area khusus jika merasa bisa mengenali korban dari pakaiannya. Namun, sebagian besar diarahkan ke dua layar televisi yang menampilkan lebih dari 1.000 foto jenazah secara bergantian.

Keluarga harus jeli mencari tanda sekecil apa pun, tato, gelang, pakaian, atau barang rumah tangga, di tengah kondisi fisik jenazah yang mulai sulit dikenali akibat cedera dan pembusukan. Ketika sebuah kecocokan ditemukan, tangis pun pecah.

Liliana González, 60, warga Catia La Mar, berhasil mengidentifikasi keponakannya yang berusia 37 tahun melalui foto tato setelah namanya tidak masuk dalam daftar korban.

“Ini seperti film horor,” kata Liliana González saat keluar. “Saya melihat ibu saya ketika dia meninggal, tapi ini… ini tidak sama.”

Liliana menceritakan sempat panik saat harus melakukan identifikasi sendiri.

“Namun kemudian, melihat saya seperti itu, dua petugas menemani saya ke jenazah. Mereka membantu saya menemukannya agar saya tidak terlalu menderita,” tuturnya. “Terima kasih Tuhan, karena di momen seperti itu, sangat menenangkan merasakan genggaman tangan seseorang.”

Kisah pilu lain datang dari Modesta Alemán, 56, yang mencari kakak perempuannya, Matilde, di wilayah terdampak parah, Playa Grande. Berdasarkan laporan sukarelawan, sempat terdengar suara-suara yang meminta tolong dari reruntuhan bangunan, namun evakuasi gagal dilakukan.

“Mereka memberi tahu kami tidak ada yang selamat,” katanya, “tetapi tidak ada yang bisa mengeluarkan mereka.”

Setelah proses identifikasi yang memakan waktu berjam-jam selesai, pengambilan sidik jari dilakukan sebelum jenazah dimasukkan ke dalam peti mati. Namun, kendala birokrasi dan logistik masih membayangi. Banyak keluarga, termasuk mereka yang anaknya menjadi korban, terpaksa menunggu berhari-hari di area luar demi mendapatkan sertifikat kematian agar jenazah bisa segera dibawa oleh pihak ambulans atau rumah duka. (BBC/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *