Tudingan 'Kartel' KFA yang Berujung Hancurnya Sepak Bola Korea
Mantan pelatih timnas Korea Selatan Hong Myung-bo(AFP/Ulises RUIZ)

“SEPAK bola Korea Selatan sudah mati.” Kalimat lugas yang tertera pada sebuah papan di tengah kerumunan massa di Bandara Incheon, Seoul, merefleksikan dengan tepat kedalaman runtuhnya asa publik sepak bola Negeri Ginseng.

Gelombang protes tersebut menyambut kepulangan tim nasional Korea Selatan yang terdepak lebih awal di babak penyisihan grup Piala Dunia 2026. Alih-alih mendapatkan sambutan hangat, skuad berjuluk Taegeuk Warriors itu justru dihadang massa yang menuntut pertanggungjawaban.

Muara dari segala amarah publik tersebut tertuju pada satu nama: kepala pelatih Hong Myung-bo. Mantan kapten sekaligus pahlawan yang membawa Korea Selatan menembus semifinal legendaris Piala Dunia 2002 itu kini dinilai sebagai aktor utama di balik hancurnya performa tim di panggung tertinggi sepak bola dunia.

Massa yang menyemut di bandara memukul genderang sembari menggemakan seruan tegas, “Hong keluar!”. Desakan mundur ini sebenarnya bukan hal baru. Penunjukan Hong sebagai arsitek tim nasional sejak 2024 memang sudah diwarnai resistensi masif dari suporter yang mengungkit kegagalan masa lalunya pada Piala Dunia 2014 di Brasil.

Nepotisme di Tubuh KFA

Tersingkirnya Korea Selatan secara prematur kini membuka kotak pandora mengenai bobroknya tata kelola organisasi di tubuh Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA). Kritik tajam yang selama ini dituduhkan publik mengenai hilangnya transparansi dan meritokrasi di internal federasi kembali mencuat ke permukaan.

KFA dituding kerap memilih figur-figur penting di tim nasional berdasarkan kedekatan personal dan jaringan kronisme ketimbang kapabilitas profesional. “Inti dari masalah ini adalah ketidakmampuan KFA,” tegas pengamat olahraga Korea Selatan, Choi Dong-ho.

Menanggapi kegagalan total tersebut, Hong Myung-bo akhirnya resmi mengajukan pengunduran diri dan menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada publik. Ia menyatakan bahwa tanggung jawab atas hasil minor tersebut sepenuhnya berada di pundak pribadinya.

Kendati demikian, mundurnya Hong tidak serta-merta meredakan situasi. Isu ini bahkan menarik perhatian serius dari ranah politis. Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, secara terbuka mengkritik keras sistem manajerial KFA dan menyerukan dilakukannya investigasi menyeluruh.

Melalui akun resminya di media sosial X, Presiden Lee Jae-myung menegaskan, “Ketika nepotisme dan kronisme didahulukan daripada kompetensi dalam memilih seorang komandan, hasilnya sejelas siang hari.” Ia menambahkan bahwa petaka di Piala Dunia kali ini merupakan akibat langsung dari kegagalan struktural organisasi dan personel.

Indikasi adanya ‘kartel’ di tubuh KFA menguat setelah mantan pemain timnas, Park Joo-ho, yang juga merupakan anggota komite seleksi pelatih KFA, membongkar bahwa penunjukan Hong Myung-bo tidak melalui prosedur yang sah dan mengabaikan kandidat potensial lain seperti Jesse Marsch. Langkah berani Park ini mendapatkan dukungan moril dari legenda hidup Manchester United, Park Ji-sung, yang menyebut KFA telah kehilangan kepercayaan dari masyarakat.

Tertinggal dari Jepang

Kekecewaan publik Korea Selatan kian berlipat ganda mengingat komposisi skuad saat ini sejatinya dipenuhi generasi emas yang merumput di klub-klub raksasa Eropa. Skuad ini diperkuat oleh bintang Tottenham Hotspur Son Heung-min, gelandang Paris Saint-Germain Lee Kang-in, hingga tembok pertahanan Bayern Munich Kim Min-jae.

“Sejujurnya, sulit untuk menerima kenyataan ini. Saya percaya apa yang dirasakan para penggemar tidak akan jauh berbeda dari apa yang saya rasakan,” tulis kapten tim, Son Heung-min, melalui akun Instagram pribadinya sembari meminta maaf.

Kegagalan ini sekaligus mempertegas bahwa posisi Korea Selatan kini kian tertinggal dari rival abadi mereka, Jepang. Pasca-turnamen, peringkat FIFA Korea Selatan merosot ke urutan 32, posisi terendah mereka dalam empat tahun terakhir. Sebaliknya, Jepang melesat ke peringkat 17 dunia sebagai tim terbaik di Asia.

Menurut analisis Choi Dong-ho, penurunan prestasi ini disebabkan karena KFA tidak pernah memiliki cetak biru dan filosofi jangka panjang yang konsisten. Sejak momentum historis tahun 2002, Korea Selatan tercatat telah berganti pelatih lebih dari 10 kali.

“Sebaliknya, rasanya seolah-olah Korea Selatan selalu mulai dari nol setiap empat tahun. Hal ini membuat tim nasional sulit membangun pengalaman atau mengembangkan strategi jangka panjang yang konsisten,” pungkas Choi. Reformasi total kini menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi bagi masa depan sepak bola Korea Selatan.

(BBC/P-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *