Mengapa Refleksi Penting dalam Deep Learning?
(MI/Seno)

DALAM banyak proses pembelajaran di kelas konvensional, pembelajaran itu dianggap selesai, berakhir, dan paripurna ketika tanda bel berbunyi atau tugas siswa dikumpulkan guru. Siswa lalu berpindah menerima mata pelajaran berikutnya, sedangkan guru segera menyiapkan materi berikutnya di kelas lain.

Padahal, di antara satu pengalaman belajar dan pengalaman berikutnya, ada ruang yang sangat penting: refleksi. Tanpa refleksi, belajar mudah berubah menjadi kegiatan menyelesaikan rangkaian tugas semata, bukan perjalanan memahami diri, bukan proses dan perjalanan pengetahuan, dan bukan cara belajar bagaimana belajar.

Dalam konteks pembelajaran mendalam (PM), refleksi bukan kegiatan tambahan di penghujung pelajaran. Refleksi ialah bagian dari pengalaman belajar yang membuat siswa menyadari apa yang sudah dipahami, apa yang belum dikuasai, bagaimana ia belajar, dan langkah apa yang perlu ditempuh sesudahnya.

Pada saat yang sama, refleksi bagi guru ialah cermin profesional untuk berkaca dan melihat apakah pembelajaran yang baru saja dilakukan benar-benar menghidupkan pikiran, melibatkan perasaan, dan menggerakkan batin dengan tindakan siswa.

 

DUA TUJUAN YANG BERBEDA

Bagi siswa, refleksi bertujuan membangun kesadaran sebagai pembelajar. Murid tidak hanya dituntut menjawab benar, tetapi juga mampu menjelaskan mengapa ia memahami sesuatu, bagian mana yang masih membingungkan, strategi apa yang membantunya, serta bantuan apa yang ia perlukan. Di situlah siswa belajar ‘belajar bagaimana belajar’. Ia tidak menggantungkan seluruh penilaian pada guru, tetapi perlahan memiliki kemampuan metakognitif: mampu memantau proses berpikirnya sendiri.

Karena itu, pertanyaan refleksi untuk siswa tidak cukup berbunyi, “Apakah kamu senang belajar hari ini?” Pertanyaan itu berguna, tetapi terlalu dangkal bila berdiri sendiri.

Guru perlu mengajak siswa bertanya kepada dirinya: “Apa gagasan paling penting yang saya pahami hari ini?”, “Bagian mana yang mula-mula sulit, tetapi kemudian menjadi lebih jelas?”, “Bagaimana saya menemukan jawabannya?”, “Kesalahan apa yang saya lakukan dan apa yang dapat saya pelajari dari kesalahan itu?”, “Di mana pengetahuan ini dapat saya gunakan dalam kehidupan?”, dan “Apa satu langkah yang akan saya lakukan agar pemahaman saya lebih baik?”

Pertanyaan seperti itu menolong siswa tidak sekadar mengingat isi pelajaran, tetapi menyusun makna dari pengalaman belajarnya.

Sementara itu, refleksi guru memiliki tujuan yang berbeda. Guru tidak sedang meminta pujian atas pelajaran yang telah disampaikan, tetapi memeriksa mutu keputusan pedagogisnya. Guru perlu bertanya: “Apakah tujuan belajar hari ini dipahami siswa?”, “Apakah kegiatan yang saya rancang membuat siswa berpikir, berdialog, mencoba, dan merefleksi?”, “Siswa mana yang belum terlibat secara bermakna, dan mengapa?”, “Bukti apa yang menunjukkan bahwa mereka benar-benar memahami, bukan hanya menyalin atau menghafal?”, “Bagian mana dari penjelasan, tugas, atau asesmen saya yang perlu diperbaiki?”, dan “Apa yang harus saya ubah pada pertemuan berikutnya?”

Refleksi semacam itu menjaga guru agar ia tidak merasa selesai dan paripurna hanya karena materi dalam pokok bahasan telah habis diajarkan.

 

BELAJAR TANPA CERMIN

Bahaya terbesar pembelajaran tanpa refleksi ialah terulangnya kesalahan. Siswa dapat terus mengerjakan tugas tanpa memahami kelemahannya; guru dapat terus mengajar dengan cara yang sama tanpa mengetahui bahwa sebagian siswa tertinggal, sebagian lain mengalami miskonsepsi.

Nilai mungkin tetap diberikan, tetapi nilai itu tidak selalu menjelaskan proses berpikir tingkat tinggi (HOTS), ketekunan siswa, bahkan kebingungan, maupun perkembangan yang sesungguhnya harus terjadi sebagai capaian pembelajaran.

Itulah salah satu kelemahan pembelajaran konvensional yang terlalu berpusat pada penyampaian materi. Yang penting materi selesai, latihan dikerjakan, dan ujian ditempuh. Siswa yang keliru sering hanya menerima tanda salah; mereka tidak diajak membaca mengapa kekeliruan itu terjadi.

Guru pun mudah menilai kelas berhasil karena suasana tertib, tenang, atau karena sebagian siswa mampu menjawab pertanyaan, tetapi ternyata pertanyaan itu tak disadari hanyalah pertanyaan yang hanya menghasilkan jawaban tingkat berfikir rendah (LOTS). Padahal, ketertiban belum tentu bermakna dan jawaban beberapa anak belum tentu mencerminkan pemahaman seluruh kelas.

Pembelajaran mendalam menolak cara pandang yang menjadikan belajar sebagai lintasan satu arah, tidak terjadi dialog, diskusi, dan tanya jawab yang mendorong siswa mampu berfikir reflektif, kreatif, dan inovatif. Belajar harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami, mengaplikasikan, lalu merefleksi.

Melalui refleksi, pengetahuan tidak berhenti sebagai informasi, tetapi menjadi bekal untuk mengambil keputusan yang lebih baik sehingga siswa bisa menjadi pembelajar sepanjang hayat yang semakin mandiri dan otonom. Di pihak lain, melalui refleksi pula, guru bisa tumbuh sebagai pembelajar dan pendidik profesional yang berani dan bersedia memperbaiki praktiknya yang keliru.

Kelas yang baik bukan kelas yang tidak pernah melakukan kesalahan. Kelas yang baik ialah kelas yang berani melihat kesalahan, menemukan maknanya, dan menggunakannya untuk melangkah lebih jauh. Karena itu, refleksi bukan penutup pelajaran. Refleksi ialah pintu agar pembelajaran berikutnya menjadi lebih sadar, lebih bermakna, dan lebih menggembirakan. Semoga begitu.

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *