
PENGGUNAAN alat nebulizer yang tidak sesuai prosedur menyimpan risiko kesehatan serius. Dokter spesialis anak subspesialis respirologi, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), memperingatkan bahwa kesalahan dalam teknik nebulisasi dapat memicu efek samping pada organ tubuh lain, terutama mata.
Risiko Residu Obat dan Dampaknya pada Mata
Menurut dr. Wahyuni, salah satu risiko utama berasal dari residu atau sisa obat yang tersebar saat proses nebulisasi berlangsung. Jika alat tidak digunakan dengan benar atau masker tidak menutup area hidung dan mulut dengan sempurna, uap obat dapat mengenai bagian tubuh lain secara tidak sengaja.
Efek samping yang muncul sangat bergantung pada jenis obat yang digunakan dalam terapi tersebut:
- Obat Steroid: Jika uap obat yang mengandung steroid mengenai mata secara terus-menerus dalam jangka waktu lama, hal ini berisiko memicu terjadinya katarak.
- Obat Antikolinergik: Paparan obat golongan ini pada mata dapat meningkatkan tekanan intraokular atau tekanan bola mata, yang berpotensi menyebabkan glaukoma.
Oleh karena itu, dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) ini menekankan pentingnya memastikan alat nebulizer yang digunakan berkualitas baik dan mampu meminimalkan residu obat agar tidak mengganggu organ tubuh lainnya.
Nebulisasi adalah metode pemberian obat yang dirancang agar langsung mencapai target organ, yaitu sistem respiratori atau pernapasan. Dalam metode ini, obat berbentuk cair diubah menjadi aerosol (partikel atau tetesan cairan yang sangat halus) menggunakan alat nebulizer sehingga mudah dihirup oleh pasien.
Keunggulan utama terapi ini adalah efektivitasnya dalam menghantarkan obat langsung ke saluran napas. Namun, efektivitas ini harus dibarengi dengan ketepatan indikasi medis.
Bukan Solusi untuk Semua Penyakit Pernapasan
Dr. Wahyuni menyoroti fenomena di masyarakat yang cenderung menjadikan nebulizer sebagai pilihan utama untuk segala jenis keluhan pernapasan. Ia menegaskan bahwa tidak semua penyakit pernapasan memerlukan terapi inhalasi.
Secara medis, nebulisasi diperuntukkan bagi penyakit saluran pernapasan tertentu, di antaranya:
- Asma: Penyakit kronis yang membutuhkan pelebaran saluran napas secara cepat atau pemberian antiradang lokal.
- Croup (Laringitis): Infeksi saluran napas atas yang menyebabkan batuk menggonggong dan sesak.
- Bronkiolitis: Infeksi saluran napas bawah pada bayi/anak yang ditandai dengan bunyi napas “ngik-ngik” (wheezing).
“Obat yang diberikan melalui terapi inhalasi itu memang obat dengan mekanisme kerja di sistem pernapasan untuk penyakit-penyakit tertentu,” jelas dr. Wahyuni dalam sebuah acara edukasi di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
- Pastikan masker nebulizer terpasang rapat (fit) pada wajah untuk mencegah uap mengenai mata.
- Gunakan alat yang sudah teruji kualitasnya dan memiliki tingkat residu rendah.
- Selalu konsultasikan dengan dokter sebelum memulai terapi inhalasi untuk memastikan jenis obat dan dosis yang tepat.
- Bersihkan alat secara rutin sesuai instruksi pabrik untuk mencegah pertumbuhan jamur atau bakteri.
Pentingnya Edukasi dan Konsultasi Medis
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan swamedikasi (pengobatan mandiri) dengan nebulizer tanpa arahan tenaga medis. Jika anak atau anggota keluarga mengalami masalah pernapasan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis yang akurat.
Edukasi mengenai indikasi penggunaan terapi inhalasi yang tepat sangat krusial guna menghindari risiko komplikasi jangka panjang yang sebenarnya dapat dicegah dengan prosedur yang benar. (Ant/H-4)
