
HALAMAN utama koran Media Indonesia 30 Juni 2026 memuat artikel berjudul ‘Gelombang Panas Eropa, Angka Kematian Melonjak Tinggi‘. Memang itu berita tentang Eropa, tetapi pada hari yang sama 30 Juni 2026 juga laman Bmkg.go.id menurunkan berita berjudul ‘Krisis Gelombang Panas Global: Pelajaran dari Eropa dan Potensi Dampaknya di Iklim Tropis Indonesia‘. Dalam berita resmi itu dituliskan bahwa terkait dengan Indonesia BMKG terus memperingatkan masyarakat untuk bersiap menghadapi ancaman puncak kemarau dan potensi El Nino guna memastikan ketersediaan pasokan air. Jika kekeringan ekstrem dan suhu harian yang sangat tinggi berlangsung lama di Indonesia, dampak ekologis utamanya akan mirip dengan Amerika dan Eropa, tetapi dengan konsekuensi tropis.
Sementara itu, laman BMKG 10 Juni 2026 menulis bahwa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli-September 2026. Kondisi itu harus mulai diantisipasi seluruh lapisan masyarakat untuk memastikan ketersediaan air, kondisi kesehatan, serta kebutuhan multisektor yang terdampak dapat terkendali. Karena sekarang sudah masuk Juli, baik kita waspada dan mengenal serta mengantisipasi kemungkinan dampak kesehatan pada musim panas tahun ini.
BUKAN MASALAH BARU
Pertama kita perlu ketahui dulu bahwa sebenarnya ini bukan masalah baru. Jumlah orang di dunia yang terpapar oleh cuaca panas hebat (extreme heat) memang sudah meningkat akibat terjadinya perubahan cuaca (climate change). Data dari jurnal kesehatan internasional Lancet Countdown dalam tulisan ‘Heat-related Mortality. 2023‘ menunjukkan kematian akibat cuaca panas pada orang lansia meningkat sangat tinggi, sampai sekitar 85%, antara periode waktu 2000-2004 dan 2017-2021.
Data lain yang dikutip dari jurnal Lancet Planet Health pada Juli 2021 dalam artikel berjudul ‘Global, Regional, and National Burden of Mortality Associated with Non-optimal Ambient Temperatures from 2000 to 2019‘ menunjukkan bahwa antara 2000 sampai 2019 terjadi sekitar 489 ribu kematian akibat cuaca panas setiap tahunnya di dunia, 45% terjadi di Asia tempat kita tinggal dan 36% di antaranya terjadi di Eropa. Pembahasan selanjutnya tentang dampak kesehatan akibat cuaca panas dibahas dalam laman WHO 28 April 2026 yang berjudul ‘Heat and Health‘, yang dipaparkan di bawah ini.
DAMPAK KESEHATAN
Sudah sama diketahui bahwa cuaca panas berlebihan memang dapat punya dampak buruk bagi kesehatan. Tentu saja kerentanan seseorang terhadap kemungkinan dampak cuaca panas memang bervariasi, dan bergantung pada empat hal. Kesatu ialah faktor fisiologis orangnya, umur dan status kesehatannya. Kedua ialah faktor paparan, seperti pekerjaan yang memang langsung terpapar oleh panas serta keadaan sosioekonomi dalam berbagai tantangannya. Ketiga, dampak kesehatan juga akan bergantung pada waktu (tengah hari misalnya), intensitas dan lamanya waktu terpapar oleh panas. Keempat, kemungkinan dampak juga akan bergantung pada bagaimana masyarakat beradaptasi dan aklimatisasi, serta bagaimana infrastruktur di sekitar tempat orang tinggal dan beraktivitas.
Sementara itu, sedikitnya ada tiga aspek yang berhubungan dengan terkumpulnya panas dalam tubuh kita. Kesatu ialah proses metabolik yang tidak mampu menanganinya yang juga berhubungan dengan kelembapan yang tinggi, rendahnya arus angin dan tingginya radiasi termal. Kedua ialah pakaian yang menghalangi pelepasan panas tubuh dan ketiga ialah memang tingginya energi panas (heat gain) di lingkungan sekitar kita.
Dampak kesehatan yang terjadi memang dapat beragam. Dapat saja terjadi perburukan dari keadaan kronis yang sudah ada, seperti kelainan jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular), sistem pernapasan, dan diabetes. Itu juga dapat berdampak pada gangguan otot dan tulang (muskulo-skeletal), mental, dan gangguan ginjal. Kalau cuaca panasnya cukup tinggi, dapat saja terjadi gangguan akut berat seperti heat exhaustion dan bahkan heat stroke. Selain itu, cuaca panas dapat menurunkan produktivitas bekerja dan bersekolah dan meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan di tempat kerja dan di lingkungan. Gelombang panas juga berhubungan dengan peningkatan terjadinya polusi udara, dengan berbagai akibatnya.
Kalau cuaca panas terlalu tinggi, bukan tidak mungkin tempat kerja atau sekolah harus tutup. Mungkin juga ada gangguan transportasi dan energi listrik. Bahkan fasilitas pelayanan kesehatan juga dapat terganggu aktivitasnya, yang tentu justru akan makin berdampak buruk bagi status kesehatan warga.
ANTISIPASI
WHO menyampaikan beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk antisipasi dampak kesehatan akibat cuaca panas itu, sesuatu yang perlu kita implementasikan di lapangan. Pertama ialah sedapat mungkin menghindari diri dari terpapar oleh cuaca panas berlebihan di luar ruangan. Hal itu dapat dilakukan dengan menghindari keluar ruangan ketika matahari sedang terik-teriknya, atau mencoba sebanyak mungkin bernaung dari kena matahari langsung, menggunakan payung atau topi, dan pakaian yang sesuai untuk cuaca panas. Kedua ialah mengupayakan ruang kerja, sekolah, dan rumah tidak terlalu panas. Itu tidak selalu harus dengan air conditioner (AC), tetapi dapat juga dengan menjamin ventilasi udara yang lebih baik.
Ketiga dengan menjaga hidrasi tubuh yang dapat dilakukan dengan minum yang cukup dan tentu makan yang sehat termasuk buah dan sayur. Keempat ialah lindungi kelompok rentan, utamanya anak-anak dan orang lansia. Misalnya saja, jangan pernah meninggalkan anak dalam mobil yang tertutup di bawah sinar matahari, seperti yang sesekali pernah kita dengar di berita. Orang lansia juga perlu perlindungan khusus karena peningkatan risiko sakit, dan bahkan kematian, akibat cuaca panas berlebihan.
Kelima ialah yang perlu dilakukan pemerintah, seperti menjamin tersedianya taman kota, area pepohonan, dan lingkungan yang sehat. Kalau di TV kita lihat di Eropa ada pemerintah daerah yang bahkan menyemprotkan air pada warga mereka, atau warga kota Eropa yang berendam di danau atau sungai kota yang memang bersih di sana. Pemerintah juga perlu menjamin agar di tempat kerumunan orang suhu dan ventilasi udara harus terjaga baik. Tentu saja pemerintah perlu selalu menjelaskan ke masyarakat kecenderungan suhu dan panas yang sedang terjadi dari waktu ke waktu. Jelas perlu ada penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai dengan akses yang mudah terjangkau. Petugas kesehatan perlu meningkatkan pemahaman mereka tentang dampak kesehatan yang mungkin terjadi, sarana dan prasarana kesehatan sudah harus disiapkan, demikian juga pedoman dan standar kerja yang baik, termasuk untuk menangani kemungkinan peningkatan pasien dan bukan tidak mungkin pasien yang lebih berat dan gawat keadaannya akibat cuaca panas.
WHO secara jelas menyebutkan bahwa dampak cuaca panas bagi kesehatan masyarakat sebenarnya dapat diprediksi dan sebagian besar dapat dicegah. Untuk itu, diperlukan program kesehatan masyarakat yang tertata baik dan tentunya juga intervensi multisektoral dan ini yang harus kita lakukan sejak sekarang, pada awal musim panas melanda kita. WHO juga menyebutkan intervensi lapangan yang praktis dan laik laksana, pada tingkat individu, komunitas, organisasi masyarakat dan pemerintah akan amat diperlukan. Program yang jelas untuk mengatasi perubahan cuaca, bersama dengan kesiapan dan manajemen risiko yang baik akan dapat menjamin kesehatan warga kita pada hari-hari mendatang pada musim panas ini.
