Kapten Tsubasa dan Cara Jepang Membangun Mimpi
Khoerun Nadif Rahmat Wartawan Media Indonesia(MI/Seno)

LANGKAH Jepang di Piala Dunia 2026 harus terhenti setelah takluk 1-2 dari Brasil secara dramatis lewat gol injury time di babak 32 besar.

Kekalahan itu menutup perjalanan Jepang yang sebelumnya lolos sebagai runner-up Grup F dengan lima poin. Sementara itu, Brasil melangkah ke fase berikutnya setelah datang sebagai juara Grup C dengan tujuh poin.

Jika dilihat dari hasil, cerita Jepang di Piala Dunia 2026 sudah selesai. Namun, anehnya ada satu hal yang tetap hidup setelah wasit meniup peluit panjang. Serial Kapten Tsubasa masih dibicarakan.

Banyak warganet kembali mengingat anime dan manga itu yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari masa kecil. Pertemuan Jepang melawan Brasil terasa seperti sesuatu yang pernah terjadi.

Bukan di stadion. Bukan dalam catatan sejarah resmi sepak bola, melainkan di dunia yang selama bertahun-tahun hidup di kepala jutaan anak di pelbagai belahan dunia.

Mungkin, di situlah letak menariknya. Bagi mereka yang tumbuh bersama Tsubasa Ozora, Jepang memang layak melawan Brasil. Pertandingan itu terasa normal.

Padahal, serial garapan Yoichi Takahashi itu pertama kali terbit pada 1981 dan saat itu Jepang bahkan belum memiliki liga sepak bola profesional. Dunia sama sekali belum menganggap Jepang memiliki kekuatan di atas lapangan hijau.

Dalam cerita Kapten Tsubasa, Jepang sudah hadir sebagai tim yang layak menantang negara sekelas Brasil. Seolah masa depan lebih dulu digambar sebelum kenyataan sempat menyusul.

Namun, yang membuat Jepang menarik bukan karena gambar itu muncul. Yang menarik ialah Jepang tidak berhenti di sana.

Jepang tidak memperlakukan imajinasi atau mimpi sebagai tempat melarikan diri dari kenyataan. Mereka menjadikan imajinasi sebagai arah.

Saat banyak negara puas menjadi penonton dari mimpi besar mereka sendiri, Jepang memilih membangun jalan panjang menuju mimpi itu. Perlahan. Panjang. Tidak selalu spektakuler. Tidak selalu mengejutkan.

Federasi Sepak Bola Jepang sejak 2005 menetapkan target jangka panjang yang saat itu terdengar mustahil, yakni menjadi juara Piala Dunia 2050.

Target itu tidak berhenti sebagai slogan. Mereka menerjemahkannya menjadi pekerjaan panjang. Liga diperkuat, pembinaan usia muda dibenahi, akademi dikembangkan, infrastruktur dibangun, dan pemain muda didorong mencari pengalaman ke Eropa.

Yang mereka pikirkan bukan hanya turnamen berikutnya, melainkan juga generasi berikutnya.

Mungkin di situlah perbedaan paling besar. Sebuah bangsa bisa memiliki mimpi yang sama, tetapi belum tentu memiliki kesabaran yang sama untuk mewujudkannya.

Ketika imajinasi hidup cukup lama, ia bisa berubah menjadi orientasi yang menuntun anak-anak tumbuh menjadi pemain, pelatih, hingga pengelola federasi.

Sebab itu, kekalahan dari Brasil di fase gugur Piala Dunia 2026 tidak mengakhiri cerita sepak bola Jepang. Daya tarik sejati Jepang ialah cara mereka mencapai titik ketika menghadapi raksasa dunia sudah tidak lagi terasa sebagai sekadar fantasi.

Saat ini, Indonesia mencoba menunjukkan keberanian serupa, mimpi serupa. Skuad ‘Garuda’ disebut ingin lolos ke Piala Dunia 2030. Target yang terdengar ambisius.

Target itu layak diuji dan dipertanyakan, tetapi juga harus disertai keberanian untuk membangun sistem yang mampu mengejarnya.

Indonesia sudah sangat emosional terhadap sepak bola.

Stadion penuh. Timnas selalu menjadi pembicaraan nasional hampir setiap hari. Namun, pertanyaannya bukan apakah kita mencintai sepak bola, melainkan apakah kita sedang membangun sepak bola.

Kapten Tsubasa tidak membawa Jepang menjadi juara Piala Dunia. Namun, mungkin memang itu bukan tugas sebuah mimpi.

Tugas mimpi bukan memberikan kemenangan. Tugasnya ialah membuat sebuah bangsa mau membangun sesuatu cukup lama sampai suatu hari dunia berhenti menganggapnya mustahil.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *