Apindo: Pasokan Bahan Baku dan Energi Masih Jadi Tantangan Industri
ilustrasi(MI)

ASOSIASI Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai pasokan bahan baku dan harga energi masih menjadi tantangan utama yang dihadapi sektor industri nasional. Kondisi tersebut dinilai turut mendorong kenaikan biaya produksi dan impor bahan baku, sehingga berkontribusi terhadap defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026.

Meski ekspor masih tumbuh, lonjakan impor akibat tingginya kebutuhan industri menjadi faktor yang menekan kinerja perdagangan nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar. Sementara itu, inflasi pada Juni 2026 mencapai 0,44% secara bulanan (month to month/mtm), dengan inflasi tahun kalender sebesar 1,79% dan inflasi tahunan (year on year/yoy) sebesar 3,34%.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Dewan Pimpinan Nasional Apindo Bob Azam mengatakan, meskipun kinerja ekspor masih menunjukkan pertumbuhan, lonjakan impor menjadi penyebab utama neraca perdagangan berbalik mengalami defisit.

Bob menjelaskan peningkatan impor dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga energi, biaya logistik, serta bunga pembiayaan. Faktor-faktor tersebut membuat biaya impor, terutama untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dan energi industri, menjadi semakin tinggi.

“Ekspor masih tumbuh, tetapi impor naik tajam akibat pelemahan rupiah serta kenaikan harga energi, biaya logistik, dan biaya bunga,” ujar Bob Azam kepada Media Indonesia, Rabu (1/7).

Ia menambahkan, tekanan tersebut tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga dirasakan banyak negara. Menurutnya, gangguan rantai pasok global dan distribusi logistik yang belum sepenuhnya pulih masih menjadi tantangan yang memengaruhi aktivitas perdagangan internasional.

Di sisi lain, Bob menilai permintaan dari sejumlah pasar ekspor utama Indonesia masih relatif terjaga. Namun, perlambatan mulai terlihat di beberapa kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk India dan China. Karena itu, pelaku usaha perlu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus melakukan diversifikasi pasar ekspor untuk menjaga pertumbuhan di tengah ketidakpastian global. “Kenyataannya, pasokan bahan baku masih sulit, begitu juga dengan pasokan energi,” kata Bob

Menurutnya, persoalan tersebut menjadi tantangan terbesar yang masih dihadapi sektor industri nasional. Oleh karena itu, diperlukan upaya pemerintah dan pemangku kepentingan lain untuk memperkuat ketahanan rantai pasok, menjamin ketersediaan energi, serta menjaga stabilitas biaya produksi agar daya saing industri Indonesia tetap terjaga. (Ins/P-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *