
RENCANA eksplorasi luar angkasa yang semakin intensif mendorong para ilmuwan untuk memikirkan cara baru dalam melindungi Bumi dari potensi ancaman biologis. Salah satu usulan terbaru adalah membangun fasilitas karantina atau biokontainmen di Bulan sebagai tempat penyaringan pertama bagi seluruh sampel yang dibawa dari luar angkasa.
Usulan tersebut disampaikan dalam sebuah makalah kebijakan yang diterbitkan di jurnal Ambio dan diberitakan McGill University Newsroom. Menurut para peneliti, fasilitas itu dapat menjadi”garis pertahanan pertama untuk mencegah kemungkinan masuknya organisme asing yang berpotensi membahayakan ekosistem Bumi.
Dalam makalah tersebut dijelaskan seluruh material yang dikumpulkan dari Bulan, Mars, maupun benda langit lainnya sebaiknya tidak langsung dikirim ke Bumi. Sebagai gantinya, sampel harus terlebih dahulu menjalani proses karantina dan penelitian di fasilitas khusus yang berada di Bulan.
Selama proses tersebut, seluruh penanganan sampel disarankan dilakukan menggunakan sistem robotik berteknologi tinggi. Pendekatan ini bertujuan untuk mengurangi risiko paparan terhadap manusia sekaligus mencegah pelepasan organisme asing secara tidak sengaja ke lingkungan.
Belum Ada Bukti Kehidupan
Meski hingga kini belum ada bukti yang memastikan keberadaan kehidupan di luar Bumi, para peneliti menilai langkah pencegahan tetap perlu dilakukan. Alasannya, apabila suatu bentuk kehidupan asing benar-benar ditemukan dan terbawa ke Bumi, dampaknya terhadap lingkungan diperkirakan sulit diprediksi.
Salah satu penulis penelitian, Anthony Ricciardi, profesor biologi di McGill University yang meneliti spesies invasif, mengatakan pengalaman selama puluhan tahun mempelajari organisme invasif di Bumi menunjukkan pentingnya bersikap waspada terhadap segala bentuk kehidupan baru.
“Penelitian selama puluhan tahun mengenai spesies invasif menunjukkan bahwa organisme yang masuk ke tempat yang tidak semestinya dapat menyebar tanpa terkendali dan menimbulkan dampak jangka panjang yang serius terhadap ekosistem. Karena itu, pendekatan yang sangat berhati-hati perlu diterapkan terhadap kemungkinan masuknya organisme dari luar Bumi,” ujar Ricciardi dikutip dari laman McGill University Newsroom.
Persaingan Eksplorasi Antariksa Meningkatkan
Menurut para peneliti, usulan tersebut juga muncul di tengah meningkatnya persaingan eksplorasi antariksa. Tidak hanya lembaga pemerintah, perusahaan antariksa swasta kini juga semakin aktif mengembangkan misi ke Bulan, Mars, dan wilayah lain di luar orbit Bumi. Kondisi tersebut dinilai membuat standar keamanan hayati harus diperkuat sebelum frekuensi misi pengembalian sampel semakin meningkat.
Makalah itu juga mengulas sejumlah skenario terburuk yang dapat terjadi, seperti kecelakaan wahana antariksa yang membawa material terkontaminasi atau astronaut yang sebelumnya terpapar lingkungan luar angkasa. Para penulis menilai belum ada fasilitas di Bumi yang mampu memberikan jaminan mutlak untuk mengurung, memusnahkan, atau mengendalikan mikroorganisme asing yang belum dikenal apabila terjadi insiden semacam itu.
Karena itu, membangun fasilitas karantina di Bulan dinilai sebagai solusi yang lebih aman. Jika ditemukan organisme yang berpotensi berbahaya, proses penelitian dapat dilakukan jauh dari Bumi sehingga risiko penyebaran ke lingkungan dapat ditekan semaksimal mungkin.
Para peneliti pun menyimpulkan bahwa pencarian kehidupan di luar Bumi berpotensi menjadi salah satu pencapaian ilmiah terbesar dalam sejarah manusia. Namun, mereka menegaskan bahwa upaya tersebut harus diimbangi dengan sistem perlindungan yang memadai agar eksplorasi antariksa tidak justru membawa risiko baru bagi kehidupan di Bumi. Dalam pandangan mereka, Bulan dapat menjadi benteng biologis pertama sebelum material dari luar angkasa diizinkan memasuki planet ini. (McGill University Newsroom/Z-2)
