
PEMBERIAN Air Susu Ibu (ASI) telah lama diketahui memberikan berbagai manfaat kesehatan yang luar biasa bagi pertumbuhan bayi, mulai dari meningkatkan sistem kekebalan tubuh hingga mendukung perkembangan fisik. Kini, sebuah studi ilmiah terbaru memperkuat alasan pentingnya pemberian ASI eksklusif. Penelitian tersebut menemukan bahwa menyusui bayi selama minimal enam bulan berkaitan erat dengan penurunan risiko gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada anak di kemudian hari.
ADHD merupakan salah satu gangguan perkembangan saraf yang paling sering didiagnosis pada masa kanak-kanak. Kondisi ini umumnya ditandai dengan kesulitan untuk fokus, perilaku hiperaktif, serta sikap impulsif yang dapat memengaruhi performa akademik dan interaksi sosial anak. Oleh karena itu, penemuan mengenai faktor preventif seperti pola pemberian nutrisi di awal kehidupan menjadi sangat berharga bagi dunia kedokteran dan para orang tua.
Dalam riset berskala besar ini, tim peneliti mengamati dan menganalisis data perkembangan serta riwayat pola makan ribuan anak sejak bayi hingga usia sekolah. Hasil analisis menunjukkan tren yang konsisten, anak-anak yang mendapatkan ASI selama enam bulan atau lebih memiliki tingkat diagnosis ADHD yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak yang tidak disusui atau disusui dalam durasi yang lebih pendek.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa ASI mengandung kombinasi nutrisi esensial yang unik dan tidak dapat ditiru sepenuhnya oleh susu formula. Air susu ibu kaya akan asam lemak rantai panjang, antibodi, dan senyawa bioaktif yang berperan langsung dalam proses mielinisasi, yaitu pembentukan lapisan pelindung di sekitar saraf otak. Proses ini sangat krusial bagi perkembangan fungsi kognitif yang sehat, termasuk regulasi emosi dan kemampuan memusatkan perhatian.
Selain faktor nutrisi murni, peneliti juga menyoroti peran penting dari kedekatan emosional (bonding) yang tercipta selama proses menyusui. Interaksi kulit ke kulit dan kontak mata yang intens antara ibu dan bayi secara konstan selama berbulan-bulan diyakini turut merangsang sirkuit saraf anak yang mengatur respons terhadap stres dan kontrol perilaku.
Mengenai signifikansi dari hasil temuan ini, salah satu peneliti utama menekankan pentingnya dukungan sistemik bagi para ibu menyusui agar target enam bulan tersebut dapat tercapai dengan baik.
“Temuan kami menyoroti pentingnya promosi dan dukungan terhadap pemberian ASI setidaknya selama enam bulan, karena hal ini dapat berfungsi sebagai faktor perlindungan yang potensial terhadap perkembangan gejala ADHD pada anak-anak,” jelas peneliti tersebut.
Meskipun studi ini menunjukkan korelasi yang kuat, para ahli menegaskan bahwa ADHD adalah gangguan kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor multi-dimensi, termasuk genetika dan lingkungan. Kendati demikian, intervensi dini melalui pemberian ASI selama enam bulan pertama kehidupan tetap menjadi langkah investasi kesehatan yang sangat direkomendasikan dan mudah diakses demi mengoptimalkan potensi perkembangan saraf anak secara menyeluruh. (Parents/Z-2)
