Menteri Wihaji Tegaskan Ketangguhan Keluarga Penentu Masa Depan Indonesia
Menteri Wihaji dalam upacara peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Benteng Vredeburg, Yogyakarta(Dok.HO/BKKBN)


MENTERI Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji menegaskan keluarga tidak boleh dibiarkan goyah di tengah dunia yang bergerak lebih cepat dari kemampuan kita memahaminya. Bukan keluarga yang sekadar hadir secara fisik, melainkan keluarga yang tangguh, hangat, dan menjadi benteng kokoh bagi setiap anggotanya.

Ia menggambarkan realitas dunia sebagai VUCA yakni volatility (perubahan cepat), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kerumitan), dan ambiguity (kebingunganan arah). Menurutnya, tantangan pembangunan saat ini tidak lagi hanya soal ekonomi, tetapi juga bagaimana keluarga mampu melahirkan generasi yang siap menghadapi perubahan zaman. 

“Maka ketangguhan keluarga bukanlah pilihan alternatif, melainkan keharusan mutlak dan urgensi nasional,” tegasnya dalam upacara peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Benteng Vredeburg, Yogyakarta (29/06).

Ia menjelaskan bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan apabila Indonesia mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Sebaliknya, apabila kualitas sumber daya manusia tidak dipersiapkan sejak dini, peluang tersebut dapat berubah menjadi bencana demografi. Oleh sebab itu, transformasi kualitas SDM harus dimulai dari lingkungan yang paling dekat dengan anak, yakni keluarga.

Untuk mengoptimalkan bonus demografi, Menteri Wihaji menekankan pentingnya memperkuat tiga pilar pembangunan keluarga, yaitu kesehatan, pendidikan karakter, dan ketahanan mental. Upaya menuntaskan stunting melalui pemenuhan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan harus menjadi gerakan bersama di setiap keluarga. Di saat yang sama, keluarga juga harus menjadi ruang pertama bagi anak untuk membangun karakter, kemampuan beradaptasi, semangat kolaborasi, serta daya lenting dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan pengasuhan tidak boleh hanya dibebankan kepada ibu. Peran ayah dinilai sangat menentukan dalam membentuk karakter dan kesehatan mental anak. 

“Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dalam fenomena fatherless country ,di mana ayah hadir secara fisik namun absen secara psikologis,” tegas Menteri Wihaji. 

Menurutnya, kehadiran ayah, baik secara fisik maupun emosional, menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak yang sehat dan percaya diri.

Menteri Wihaji menegaskan keluarga adalah benteng pertahanan pertama sekaligus titik awal lahirnya sumber daya manusia unggul. Sebab, sebesar apa pun kemajuan ekonomi dan megahnya pembangunan infrastruktur, semuanya tidak akan berarti tanpa manusia yang sehat, berkarakter, dan bermental tangguh. (M-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *