Serat Prebiotik Inulin Dapat Mengurangi Nyeri Osteoarthritis
Ilustrasi.(Magnific)

OSTEOARTHRITIS (OA) merupakan jenis artritis yang paling umum, menyerang sekitar 32,5 juta orang dewasa di Amerika Serikat dan diperkirakan mencapai 242 juta orang di seluruh dunia. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan nyeri lutut dan pinggul yang membatasi aktivitas, tetapi juga memicu beban ekonomi hingga Rp2.200 triliun (sekitar US$136 miliar) per tahun akibat biaya medis dan hilangnya hari kerja.

Selain dampak ekonomi, penderita OA yang parah memiliki risiko kematian dini 55% lebih tinggi karena penurunan aktivitas fisik dan efek samping pengobatan. Menanggapi tantangan ini, para peneliti dari University of Nottingham, Inggris, melakukan studi untuk mengeksplorasi intervensi alternatif sebelum prosedur penggantian sendi dilakukan.

Studi Inulin dan Mikrobioma Usus

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients ini menguji efek suplementasi inulin–serat prebiotik yang ditemukan dalam tanaman–terhadap nyeri dan fungsi lutut penderita OA. Dasar pemikirannya adalah mikrobioma usus yang sehat dapat meningkatkan persepsi dan manajemen nyeri tubuh.

Studi ini melibatkan 136 partisipan dengan rata-rata usia 68 tahun. Mereka dibagi ke dalam empat kelompok selama enam minggu:

  • Kelompok hanya inulin (20 gram per hari).
  • Kelompok hanya aktivitas fisik (program latihan penguatan otot dan keseimbangan).
  • Kelompok kombinasi inulin dan aktivitas fisik.
  • Kelompok plasebo (mengonsumsi maltodekstrin).

Temuan Utama Penelitian

Setelah enam minggu, para peneliti mencatat beberapa temuan signifikan:

  • Reduksi Nyeri: Kelompok inulin, aktivitas fisik, dan kombinasi keduanya menunjukkan efek moderat hingga besar dalam mengurangi rasa sakit dibandingkan kelompok plasebo.
  • Fungsi Fisik: Kelompok aktivitas fisik menunjukkan peningkatan kemampuan berjalan dan berjongkok.
  • Sensitivitas Nyeri: Suplementasi inulin dikaitkan dengan perbaikan moderat pada tingkat nyeri dan sensitivitas nyeri partisipan.
  • Kaitan Hormonal: Peneliti menemukan hubungan antara konsumsi inulin dengan peningkatan glucagon-like peptide 1s (GLP-1) alami dalam darah, yang berkorelasi dengan kekuatan genggaman dan fungsi sendi yang lebih baik.

Catatan Penting: GLP-1 yang dimaksud dalam studi ini adalah hormon alami yang diproduksi tubuh untuk mengatur gula darah, bukan obat penurun berat badan sintetis.

Implementasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Meskipun aktivitas fisik tetap menjadi lini pertama pengobatan OA, tingkat kepatuhan pasien seringkali rendah. Peneliti mencatat bahwa modifikasi nutrisi sederhana seperti menambahkan inulin bisa menjadi opsi yang lebih mudah dijalankan secara konsisten.

Inulin dapat ditemukan secara alami dalam makanan seperti:

  • Akar chicory
  • Sunchokes (Jerusalem artichokes)
  • Beberapa jenis sereal, bar camilan, dan yogurt yang diperkaya prebiotik.

Namun, perlu diperhatikan bahwa inulin adalah jenis serat larut fructan (FODMAP). Bagi individu dengan sindrom iritasi usus besar (IBS), inulin dapat memicu gas dan kembung. Disarankan untuk memulai dengan dosis kecil untuk membiarkan sistem pencernaan beradaptasi.

Kesimpulan Ahli

Studi ini memperkuat bukti bahwa kesehatan usus berperan penting dalam manajemen nyeri sendi. Selain inulin, pola makan anti-inflamasi seperti diet Mediterania yang kaya akan omega-3, polifenol, dan probiotik dari makanan fermentasi (seperti yogurt atau sauerkraut) sangat dianjurkan untuk mendukung kesehatan sendi dan mengurangi peradangan secara sistemik. (EatingWell/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *