
HARGA minyak goreng kemasan rakyat, Minyakita, di sejumlah pasar tradisional wilayah Priangan Timur, termasuk Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Saat ini, Minyakita dijual seharga Rp22.000 per liter, jauh melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Kenaikan harga yang cukup tinggi ini memaksa banyak konsumen beralih menggunakan minyak goreng curah yang dibanderol lebih murah, yakni Rp20.000 per kilogram.
Lilis, 44, warga Panglayungan, Kecamatan Cipedes, mengungkapkan kesulitan konsumen dalam mendapatkan Minyakita dengan harga normal. Meski Bulog Ciamis mendistribusikan Minyakita seharga Rp15.700 per liter, pasokannya sangat terbatas dan hanya tersedia di sebagian kecil kios.
“Saya beberapa kali mencari Minyakita di kios pasar tradisional dan harganya berbeda-beda. Ada yang menjual Rp15.700 dari Bulog, tetapi pedagang lain menjual Rp22.000 per liter. Karena yang murah sulit dicari, konsumen akhirnya memanfaatkan minyak curah seharga Rp20.000 per kg,” ujar Lilis, Minggu (28/6/2026).
Kondisi serupa terjadi di Pasar Pancasila. Iis Linawati, salah seorang pedagang kios, menjelaskan bahwa perbedaan harga terjadi karena mayoritas pedagang mendapatkan pasokan dari distributor non-Bulog dengan harga modal yang sudah tinggi. Bulog sendiri hanya mendistribusikan kemasan dalam jumlah terbatas kepada pedagang pilihan.
“Banyak pembeli memilih minyak curah dibanding Minyakita karena selain harga Minyakita mahal, kemasannya terkadang kurang dari satu liter. Setiap hari lebih banyak yang beli minyak curah rata-rata 1-3 kg,” kata Iis.
Kepala UPTD Pasar Induk Cikurubuk, Deri Herlisana, membenarkan ada ketimpangan distribusi tersebut. Ia menyebutkan bahwa tidak semua kios di Pasar Cikurubuk menerima pasokan Minyakita dari Bulog yang harganya terjangkau.
“Kios yang menerima dari Bulog menjual Rp15.700 per liter, tetapi jumlahnya tidak banyak. Sementara kios lain yang mengambil dari distributor lain menjual hingga Rp22.000 per liter. Melihat kondisi ini, banyak pembeli yang akhirnya mencari minyak curah,” papar Deri.
Catatan Redaksi: Kelangkaan dan tingginya harga Minyakita di pasaran diduga dipicu oleh distribusi yang tidak merata, sehingga masyarakat di wilayah Priangan Timur terpaksa beralih ke komoditas alternatif demi menekan biaya kebutuhan pokok. (I-2)
