Kenali Gejala Difteri Sejak Dini, Jangan Abaikan Selaput Abu-Abu di Tenggorokan
Ilustrasi(Magnific)

DIFTERI merupakan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini menyerang saluran pernapasan bagian atas, terutama hidung dan tenggorokan, serta dapat berkembang menjadi kondisi yang berbahaya apabila tidak ditangani dengan cepat.

Salah satu ciri khas penyakit ini adalah munculnya selaput tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel. Namun, tidak semua orang yang terinfeksi akan mengalami gejala yang jelas. Karena itu, pemeriksaan ke dokter sejak gejala awal muncul sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.

Selain menyerang saluran pernapasan, bakteri penyebab difteri juga mampu menghasilkan racun yang dapat menyebar ke berbagai organ tubuh. Jika tidak segera diobati, racun tersebut berpotensi merusak organ vital, seperti jantung, ginjal, hingga otak, bahkan dapat mengancam nyawa penderitanya.

Penularan Difteri Terjadi Melalui Percikan Air Liur

Difteri termasuk penyakit yang mudah menular. Penularan umumnya terjadi melalui percikan air liur yang keluar saat penderita batuk atau bersin. Seseorang dapat tertular apabila tanpa sengaja menghirup atau menelan percikan tersebut.

Selain melalui droplet, penularan juga bisa terjadi saat seseorang menyentuh benda yang telah terkontaminasi air liur penderita, seperti gelas, sendok, atau peralatan makan lainnya, kemudian menyentuh area mulut atau hidung.

Karena penularannya yang cukup mudah, menjaga kebersihan diri dan menghindari kontak dekat dengan penderita menjadi salah satu langkah penting untuk menekan penyebaran penyakit.

Siapa yang Berisiko Terkena Difteri?

Pada dasarnya, difteri dapat menyerang siapa saja. Namun, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi, antara lain:

  • Orang yang belum mendapatkan vaksin difteri secara lengkap.
  • Mereka yang tinggal di lingkungan padat penduduk dengan sanitasi yang kurang baik.
  • Orang yang bepergian ke wilayah yang sedang mengalami wabah difteri.
  • Individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya akibat AIDS atau kondisi lain yang menurunkan daya tahan tubuh.

Gejala difteri umumnya mulai muncul sekitar dua hingga lima hari setelah seseorang terinfeksi bakteri penyebabnya. Meski demikian, ada pula penderita yang tidak menunjukkan gejala sama sekali sehingga tetap berpotensi menularkan penyakit kepada orang lain.

Gejala yang paling khas adalah munculnya lapisan atau selaput berwarna abu-abu di tenggorokan dan amandel. Selain itu, penderita juga dapat mengalami berbagai keluhan lain, seperti:

  • Sakit tenggorokan.
  • Suara serak.
  • Batuk.
  • Pilek.
  • Demam.
  • Menggigil.
  • Tubuh terasa lemas.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher sehingga muncul benjolan.

Apabila gejala-gejala tersebut muncul, terutama setelah kontak dengan penderita atau berada di daerah yang sedang terjadi wabah, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Difteri dapat berkembang menjadi kondisi yang serius dalam waktu singkat. Oleh sebab itu, penderita perlu segera mendapatkan penanganan medis apabila mengalami tanda-tanda yang lebih berat, seperti sesak napas, gangguan penglihatan, jantung berdebar, keringat dingin, atau kulit yang tampak pucat hingga membiru.

Gejala tersebut dapat menandakan bahwa racun dari bakteri telah memengaruhi organ tubuh dan memerlukan penanganan darurat di rumah sakit.

Imunisasi Menjadi Cara Terbaik Mencegah Difteri

Upaya paling efektif untuk mencegah difteri adalah melalui imunisasi. Di Indonesia, vaksin difteri diberikan dalam bentuk vaksin kombinasi DPT yang juga melindungi dari pertusis atau batuk rejan dan tetanus.

Vaksinasi membantu tubuh membentuk kekebalan terhadap bakteri penyebab difteri sehingga dapat mengurangi risiko terkena penyakit maupun mengalami komplikasi berat. Selain imunisasi, masyarakat juga dianjurkan menjaga kebersihan diri, menerapkan etika batuk dan bersin, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada difteri. (Alodokter/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *