
PRODUK tembakau alternatif seperti vape atau rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin marak digunakan dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya kesadaran perokok dewasa untuk beralih dari kebiasaan merokok. Untuk mencegah penyalahgunaan, berbagai pihak mendorong pemahaman secara luas bahwa produk ini tidak ditujukan bagi non-perokok maupun mereka yang belum berusia 21 tahun.
Influencer sekaligus konsumen produk tembakau alternatif, Jessica Rima Rahmayanti atau yang dikenal sebagai @jee_vanka, menilai persepsi mengenai produk tembakau alternatif perlu ditempatkan secara proporsional. Menurutnya, produk tersebut tidak ditujukan untuk mereka yang sebelumnya tidak merokok, apalagi oleh anak di bawah umur.
“Kalau produk tembakau alternatif dikaitkan khusus dengan anak muda, ini tidak tepat. Yang jelas, saya tidak ada toleransi untuk penggunaan produk tembakau alternatif oleh anak di bawah umur,” ungkap Jessica, Jumat (26/6).
Edukasi vape with attitude dan komitmen batas usia 21+
Jessica mengatakan dirinya rutin menyampaikan pesan penggunaan produk ini secara bertanggung jawab melalui berbagai kanal dan kegiatan, baik secara daring maupun luring. Edukasi tersebut mencakup pemahaman produk, tujuan penggunaan, etika, hingga cara penggunaan.
“Biasanya kami menyebutnya ‘Vape with Attitude’. Edukasi seperti ini rutin dilakukan melalui konten, talkshow, maupun kegiatan komunitas. Karena vape merupakan produk inovasi yang relatif baru, edukasi menjadi sangat penting,” jelasnya.
Tak jarang, ada orang yang tertarik menggunakan produk tembakau alternatif dan berkonsultasi dengannya.
Jessica mengaku, ia selalu menanyakan latar belakang orang tersebut. Jika orang itu sebelumnya tidak merokok, ia menyarankan agar tidak mencoba produk tembakau alternatif.
“Saya jelaskan secara sederhana bahwa produk ini memang bukan untuk orang yang sebelumnya tidak merokok,” imbuhnya.
Menurut Jessica, komunikasi yang bertanggung jawab juga harus memastikan pesan yang disampaikan tidak menarik perhatian remaja. Karena itu, ia menerapkan pembatasan audiens kegiatan yang dilakukannya hanya pada kelompok usia dewasa dan fokus membuat konten edukatif yang relevan.
“Kami berusaha memastikan edukasi mengenai produk tembakau alternatif tetap tepat dan bijak, misalnya dengan mengatur target audiens 21 tahun ke atas dan tidak membuat ajakan yang ditujukan kepada mereka yang bukan konsumen,” terangnya.
Pentingnya pilihan bagi perokok dewasa
Jessica menjelaskan keberadaan produk tembakau alternatif menjadi salah satu pilihan bagi perokok dewasa yang ingin beralih dari kebiasaan merokok. Ia mengibaratkan pilihan tersebut seperti seseorang yang secara bertahap mengurangi konsumsi gula dengan memilih minuman yang lebih rendah kadar gulanya.
“Pada akhirnya semua kembali kepada pilihan konsumen. Yang terpenting adalah adanya opsi bagi perokok dewasa untuk menentukan pilihan yang lebih rendah risikonya dan paling sesuai bagi mereka,” ucapnya.
Menurut Jessica, banyak pengalaman konsumen yang merasa terbantu setelah beralih dari kebiasaan merokok, meski kisah-kisah tersebut tidak selalu menjadi sorotan publik. Namun, ia menegaskan bahwa keberadaan produk tembakau alternatif tidak boleh dipahami sebagai ajakan untuk mulai menggunakan produk tembakau.
“Produk ini bukan sesuatu untuk dicoba-coba. Produk tembakau alternatif ditujukan sebagai pilihan bagi perokok dewasa yang memang ingin beralih dari kebiasaan merokok,” tuturnya.
Pengalaman konsumen setelah beralih dari kebiasaan merokok
Sementara itu, Aji, seorang konsumen produk tembakau alternatif, mengaku mulai menggunakan produk tersebut pada 2016 setelah bertahun-tahun menjadi perokok berat.
“Setelah menggunakan vape, saya merasakan dada lebih ringan. Perubahan itu membuat saya kemudian beralih sepenuhnya dari kebiasaan merokok pada 2018. Vape lebih nyaman dalam aktivitas sehari-hari, tidak ada lagi bau asap rokok yang menempel di ruangan maupun pakaian,” katanya.
Aji menilai produk tembakau alternatif sebaiknya dipahami sebagai opsi bagi perokok dewasa, bukan sebagai produk yang dapat dicoba tanpa pertimbangan. Ia juga berharap edukasi publik mengenai penggunaan produk ini dapat terus diperkuat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. (E-1)
