
DULU, mereka hanya angka dalam data kemiskinan. Anak-anak yang nyaris kehilangan mimpi karena keterbatasan ekonomi. Kini, mereka berdiri di atas panggung, bernyanyi, menari, dan berpidato dalam empat bahasa dengan percaya diri.
Inilah kisah satu tahun perjalanan Sekolah Rakyat Terintegrasi 64 Soppeng, sebuah bukti nyata bahwa kehadiran negara mampu mengubah jalan hidup generasi muda.
Wardah masih ingat betul hari itu. Seorang petugas dari program sosial datang mengetuk pintu rumahnya. Ia sempat kaget, cemas, dan bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi.
Namun, setelah mendengar maksud kedatangan tamu itu, hatinya bergetar. Anaknya disebut-sebut berhak mendapatkan kesempatan bersekolah di Sekolah Rakyat, sebuah program pendidikan gratis dari pemerintah yang selama ini hanya ia dengar dari orang lain.
“Saya langsung bilang, saya mau,” kenang Wardah, ibu dari Muhammad Nur Ibnu, dengan mata berbinar.
Keputusan itu tidak mudah. Anaknya sempat ragu, enggan meninggalkan rumah di usia yang masih belia. Tapi Wardah terus membujuk dengan lembut. “Mungkin ini lebih bagus, Nak. Ini bisa bantu kita semua nanti hingga berhasil,” katanya meyakinkan.
Setahun kemudian, keputusannya terbukti tepat.
“Perubahan anak saya saat berada di sekolah rakyat ini, ya, kalau dikasih bangun, ya terus bangun katanya. Tidak seperti biasa lagi. Terus cara salatnya, ya ada perubahan sedikit lah. Yang saya aneh itu perubahannya sudah banyak,” ujar Wardah tersenyum, menceritakan transformasi putranya.
Cerita serupa datang dari Muhammad Ramli, orang tua Nur Aini dan Rekmin Ahmad Bedar. “Saya bersyukur kepada SR Sekolah Rakyat, karena ada perubahan itu anak saya. Alhamdulillah membantu orang tuanya. Terutama di rumah, salatnya rajin. Semuanya ya ada perubahan lah,” tuturnya penuh haru.
“Semenjak dia sekolah di SR Sekolah Rakyat, dia rajin salat, rajin bersih, rajin semuanya,” tambahnya lagi.
Kisah-kisah seperti ini terungkap dalam acara Open House Satu Tahun Perjalanan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 64 Soppeng, yang digelar di kampus sementara eks Rumah Sakit Ajjappange, Jalan Samudra No. 4, Kelurahan Lemba, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Jumat (16/6) lalu.
Acara yang dihadiri Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng, Wakil Bupati Selle KS Dalle, unsur Forkopimda, serta para kepala SKPD dan camat se-Kabupaten Soppeng ini menjadi momen untuk memamerkan capaian program nasional tersebut kepada publik.
Di atas panggung yang sederhana, para siswa menunjukkan kebolehannya. Ada tarian tradisional yang enerjik, paduan suara yang merdu, hingga pidato dalam empat bahasa yang membuat takjub para undangan.
Salah satu penampilan yang paling menyentuh adalah cerita inspiratif dari Muh. Ikram, seorang siswa yang dengan lantang menceritakan perjalanan hidupnya sebelum dan sesudah bergabung dengan Sekolah Rakyat.
Kepala SRT 64 Soppeng, Arni Erjilla, dalam sambutannya menjelaskan bahwa sekolah yang dipimpinnya saat ini menaungi dua jenjang pendidikan, yaitu Sekolah Rakyat Dasar (SRD) dan Sekolah Rakyat Menengah (SRMB).
Dengan total 100 siswa dan didukung oleh 60 tenaga pendidik serta kependidikan, SRT 64 Soppeng menjadi salah satu dari sembilan kabupaten/kota di Sulawesi Selatan yang terpilih sebagai pelaksana tahap awal program ini.
“Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada pendidikan akademik, tetapi juga membangun karakter, keterampilan, dan potensi siswa melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler agar mereka mampu bersaing dan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, mandiri, serta berkarakter,” ujar Arni dengan penuh semangat.
Ia menegaskan bahwa kehadiran Sekolah Rakyat merupakan bentuk nyata perhatian pemerintah dalam memberikan akses pendidikan yang layak bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Program ini diperuntukkan khusus bagi anak-anak yang berasal dari keluarga Desil 1 dan Desil 2, kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik. Sekolah Rakyat hadir untuk menjangkau yang belum terjangkau dan memungkinkan yang tidak mungkin,” tegasnya.
Proses penerimaan siswa dilakukan melalui sistem penjangkauan langsung oleh pendamping sosial, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), serta tenaga rehabilitasi sosial yang mendatangi keluarga sasaran.
Tim khusus ini datang dari rumah ke rumah untuk memberikan informasi dan meminta persetujuan orang tua.
Bagi anak-anak yang sebelumnya kesulitan memenuhi kebutuhan pokok harian, masuk ke Sekolah Rakyat seperti memasuki dunia baru. Seluruh kebutuhan dasar mereka kini dijamin oleh negara, baik makanan bergizi tiga kali sehari, makanan ringan dua kali sehari, susu secara rutin, seragam, sepatu, buku, alat tulis, tempat tinggal di asrama, hingga laptop dengan skema satu siswa satu laptop.
Kabar baik dari skala nasional pun turut menguatkan optimisme ini. Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), dalam kunjungan kerjanya di Makassar beberapa waktu lalu, mengonfirmasi keberhasilan fase adaptasi program Sekolah Rakyat setelah berjalan lebih dari sembilan bulan.
Ia menyatakan tidak ada lagi siswa maupun guru yang mengundurkan diri, sebuah pencapaian besar mengingat masa kritis dua bulan pertama yang sarat dengan proses adaptasi.
“Ini telah berjalan hampir setahun. Saya melihat langsung mereka kini lebih percaya diri, memiliki minat spesifik di bidang tertentu, dan punya tekad kuat untuk masa depan,” ujar Gus Ipul seusai meninjau langsung asrama.
Ia juga memuji sistem pendidikan yang diterapkan, yang mengombinasikan kurikulum akademik berbasis Learning Management System pada pagi hari dengan pendidikan karakter intensif pada sore hingga malam hari oleh wali asuh.
Menurutnya, pembentukan disiplin, kemandirian, serta kedekatan spiritual menjadi fondasi utama untuk mencetak agen perubahan. Ke depan, program prioritas ini menargetkan ekspansi besar-besaran hingga lebih dari 100 ribu peserta didik pada tahun 2027.
Dukungan nyata juga datang dari pemerintah provinsi. Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dukungan Kementerian Sosial terhadap program ini.
“Berkat dukungan Kementerian Sosial, Sulawesi Selatan termasuk wilayah dengan penurunan kemiskinan yang cukup signifikan di tahun 2025,” sebutnya.
Ia mengungkapkan bahwa Sulsel mendapatkan alokasi 16 unit Sekolah Rakyat, dengan 9 unit sudah dalam progres dan 7 unit lainnya telah disetujui. Saat ini, pemerintah provinsi bahkan kembali mengusulkan tambahan 13 unit untuk memperluas dampak positif program ini.
Di tingkat lokal, Bupati Soppeng, H. Suwardi Haseng, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengelola Sekolah Rakyat yang telah menghadirkan pendidikan inklusif, merakyat, dan berkualitas di Bumi Latemmamala (Soppeng).
“Kemiskinan tidak boleh memutus mimpi anak. Sekolah Rakyat memangkas ketimpangan kualitas pendidikan. Fasilitas, kurikulum, dan sarana di sini setara sekolah unggulan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa Kabupaten Soppeng berkomitmen penuh untuk terus mendukung, mengawal, dan memfasilitasi keberlanjutan Sekolah Rakyat.
Pada tahun ajaran mendatang, kapasitas peserta didik akan digenjot hingga 270 siswa, mencakup jenjang SD, SMP, dan SMA yang masing-masing menampung 90 siswa. Selain itu, dalam waktu dekat sekolah akan menempati gedung baru yang representatif di atas lahan seluas lima hektare dengan sistem asrama penuh (boarding school).
“Tujuan utama program ini adalah memastikan tidak ada anak usia sekolah yang kehilangan kesempatan belajar atau putus sekolah. Pendidikan adalah hak dasar setiap warga negara yang harus diberikan secara merata tanpa terkecuali,” pesan Bupati kepada para siswa baru Tahun Ajaran 2026.
Sementara itu, Wakil Bupati Soppeng, Selle KS Dalle, turut menambahkan sentuhan emosional dalam pernyataannya. Ia menyebut satu tahun hadirnya Sekolah Rakyat di Kabupaten Soppeng telah menjadi secercah harapan bagi anak-anak yang nyaris dipatahkan mimpinya oleh keterbatasan.
“Di tempat ini, mereka belajar untuk percaya bahwa masa depan tidak ditentukan oleh keadaan, melainkan oleh semangat dan kesempatan yang diberikan. Semoga Sekolah Rakyat terus menjadi ruang bertumbuh, tempat harapan dirawat, cita-cita disemai, dan masa depan yang lebih baik dipersiapkan,” ujarnya penuh harap.
Di akhir acara, para orang tua siswa tak henti-hentinya mengucap syukur. Haru pun tak terbendung saat mereka melihat anak-anaknya tampil percaya diri di atas panggung. Pemandangan yang dulu tak pernah mereka bayangkan.
Karena pada akhirnya, Sekolah Rakyat mengajarkan satu hal penting, yaitu setiap anak berhak bermimpi, bersekolah, dan meraih masa depannya dengan penuh keyakinan. Cerdas Bersama Tumbuh Setara. (LN/E-4)
