
BERANGKAT dari keinginan menjaga mangrove sekaligus membuka ruang ekonomi bagi perempuan pesisir, Mangrove Women Balikpapan mengembangkan berbagai produk makanan dan minuman berbahan baku mangrove. Meski belum genap setahun berdiri, produk komunitas ini telah tersebar di seluruh wilayah Kalimantan Timur.
Ketua Mangrove Women Balikpapan, Asmita Nova Rachmayati, mengatakan komunitas tersebut dibentuk untuk menjaga kelestarian mangrove, mengembangkan potensi lokal, serta membangun ekonomi keluarga yang berkelanjutan.
“Jadi saya ingin bahwa perempuan di pesisir ini berdaya dan setara. Jadi bukan hanya sebagai ibu rumah tangga yang menerima uang bulanan dari suami, tapi juga mampu memiliki penghasilan sendiri,” kata Nova kepada Media Indonesia, Kamis (25/6).
Menurut Nova, Mangrove Women Balikpapan berdiri pada 2026 dan kini memiliki sekitar 20 anggota aktif. Para anggota komunitas mengolah mangrove menjadi berbagai produk, mulai dari Crab Stick, Teh Mangrove, Kopi Mangrove, Mangrove Crackers, Sambel Daun Mangrove, hingga Mangrove Cheese Stick.
Nova menjelaskan, setiap produk tidak langsung dipasarkan. Komunitas lebih dulu melakukan uji coba berulang untuk mendapatkan komposisi dan kualitas yang dinilai tepat.
“Jadi memang sebelum kami menciptakan produk, kami lakukan trial berkali-kali sampai tercipta produk yang sempurna. Kami juga kerja sama dengan Universitas Mulawarman untuk melakukan penelitian laik konsumsi,” ujarnya.
Data Singkat Mangrove Women Balikpapan
| Nama Komunitas | Mangrove Women Balikpapan |
|---|---|
| Ketua | Asmita Nova Rachmayati |
| Tahun Berdiri | 2026 |
| Jumlah Anggota Aktif | Sekitar 20 orang |
| Produk Olahan | Crab Stick, Teh Mangrove, Kopi Mangrove, Mangrove Crackers, Sambel Daun Mangrove, Mangrove Cheese Stick |
| Sebaran Produk | Seluruh wilayah Kalimantan Timur |
| Kegiatan Pelestarian | Penanaman dan penyemaian bibit mangrove setiap pekan |
Memanfaatkan Tanpa Mengabaikan Pelestarian
Nova mengatakan, potensi mangrove di Kalimantan Timur menjadi salah satu faktor yang mendorong komunitasnya berkembang. Ia menyebut luasan mangrove di Kalimantan Timur masih terjaga dan menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia.
“Berdasarkan data, luasan lahan mangrove di Kalimantan Timur masih sangat terjaga dan luas. Jadi kami akan terus jaga dan lestarikan,” ujarnya.
Meski memanfaatkan mangrove sebagai bahan baku produk, komunitas ini tetap menempatkan pelestarian sebagai bagian penting dari kegiatan mereka. Setiap pekan, Mangrove Women Balikpapan melakukan penanaman dan penyemaian bibit mangrove.
Nova menegaskan, pemanfaatan mangrove dilakukan secara terbatas dan memperhatikan ekosistem sekitar. Hal itu penting karena buah mangrove juga menjadi salah satu makanan utama bekantan, satwa endemik Kalimantan.
“Kami hanya memanfaatkan bagian-bagian selain biji yang menjadi makanan utama Bekantan. Seperti daun untuk teh dan sedikit biji mangrove untuk campuran produk kopi,” ujarnya.
Bagi Nova, Mangrove Women Balikpapan bukan sekadar komunitas produksi makanan dan minuman. Lebih dari itu, komunitas ini menjadi wadah bagi perempuan pesisir untuk belajar, bekerja, memperoleh penghasilan, sekaligus terlibat langsung dalam menjaga lingkungan tempat mereka hidup.
Dengan produk yang mulai menjangkau seluruh Kalimantan Timur, Nova berharap gerakan tersebut dapat terus berkembang tanpa meninggalkan tujuan awalnya, yakni menjaga mangrove dan memperkuat kemandirian ekonomi perempuan pesisir. (Z-1)
