
psikologi anak, pertemanan anak, tips parenting, menghadapi teman anak, pengaruh buruk teman, komunikasi orang tua dan anakMELIHAT anak Anda mulai menjalin pertemanan adalah hal yang menyenangkan. Namun, perasaan itu bisa berubah menjadi kecemasan ketika Anda menyadari Anda tidak menyukai teman pilihan mereka. Baik karena perilaku anak tersebut yang dinilai tidak sopan, maupun kekhawatiran akan pengaruh buruk yang mungkin dibawanya.
Menghadapi situasi ini membutuhkan pendekatan yang sangat berhati-hati. Langkah pertama yang paling krusial adalah memahami alasan di balik rasa tidak suka Anda. Orang tua perlu membedakan antara masalah preferensi pribadi, seperti gaya berpakaian atau kepribadian yang menjengkelkan, dengan perilaku berbahaya yang nyata, seperti perundungan, pelanggaran hukum, atau tekanan teman sebaya yang negatif.
Jika masalahnya murni kenyamanan personal, para ahli menyarankan orang tua untuk menahan diri. Melarang anak berteman secara sepihak sering kali justru memicu serangan balik. Hubungan pertemanan remaja sangat terikat dengan identitas mereka, menyerang teman mereka akan dirasakan anak sebagai serangan terhadap diri mereka sendiri. Akibatnya, anak mungkin akan memberontak dan justru semakin mendekati teman tersebut secara diam-diam.
Daripada mengeluarkan larangan keras, cobalah untuk membuka ruang diskusi yang sehat. Anda bisa mengajukan pertanyaan reflektif tanpa nada menghakimi, seperti, “Bagaimana perasaanmu setelah bermain dengannya?” atau “Apa yang paling kamu sukai dari dia?”. Cara ini melatih anak untuk menilai hubungan mereka sendiri secara kritis.
Selain itu, buatlah rumah Anda menjadi tempat berkumpul yang terbuka. Dengan mengizinkan mereka bermain di rumah, Anda dapat memantau interaksi mereka secara langsung tanpa terlihat mengintip. Langkah ini sekaligus memberi Anda kesempatan untuk mengenal karakter teman anak Anda secara lebih objektif dalam lingkungan yang terkendali.
Namun, situasinya berbeda jika Anda melihat tanda bahaya yang jelas, seperti perilaku manipulatif atau aktivitas berbahaya. Dalam kondisi ini, fokuslah pada perilaku spesifiknya, bukan pada personal anak tersebut. Alih-alih mengatakan “Temanmu itu anak nakal,” Anda bisa mengatakan, “Ibu tidak suka ketika dia mendesakmu untuk melanggar aturan sekolah.”
Terapkan batasan yang tegas mengenai nilai-nilai keluarga yang tidak boleh dilanggar. Jika situasi dirasa sudah sangat mengancam keselamatan atau kesejahteraan emosional anak, pembatasan jarak secara bertahap atau intervensi langsung dapat dilakukan. Yang terpenting, pastikan anak Anda tahu bahwa fokus utama Anda adalah melindungi mereka, bukan sekadar mengendalikan kehidupan sosial mereka. (Parents/Z-2)
