
DALAM khazanah ilmu tasawuf, sosok Nabi Khidir AS sering kali menjadi tema yang menarik sekaligus memicu perdebatan. Bagi sebagian kalangan, keberadaan dan status hidup Nabi Khidir dianggap sebagai momok yang kerap diserang. Namun, dalam literatur Islam klasik, keberadaan beliau memiliki landasan yang kuat, baik secara isyarat dalam Al-Qur’an maupun penjelasan dalam hadis.
Hal tersebut diulas KH Ma’ruf Khozin dalam kanal Nabawi TV di Youtube. Lebih jauh, simak penjelasan di bawah ini.
Keberadaan Nabi Khidir dalam Al-Qur’an dan Hadis
Keberadaan Nabi Khidir termaktub secara isyarat dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Al-Kahfi saat menceritakan perjalanan Nabi Musa AS. Ayat tersebut menyebutkan pertemuan Nabi Musa dengan abdan min ibadina (seorang hamba di antara hamba-hamba Kami).
Berdasarkan riwayat Imam Bukhari, sosok hamba yang dimaksud ialah Nabi Khidir. Hal ini menegaskan fungsi hadis sebagai penafsir Al-Qur’an yang memperjelas identitas sosok misterius tersebut.
Nasab dan Silsilah: Cucu Keenam Nabi Nuh AS
Merujuk pada kitab al-Isabah fi Ma’rifati Sahabah karya Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani, identitas asli Nabi Khidir ialah Balya bin Malkan. Berdasarkan riwayat dari seorang tabiin bernama Wahab bin Munabbih, silsilah beliau menyambung hingga Nabi Nuh AS sebagai generasi keenam (cucu keenam).
Menariknya, terdapat jarak generasi yang cukup jauh antara Nabi Khidir dan Nabi Musa. Dalam kitab Tarikh Dimasyq karya Imam Ibnu Asakir, disebutkan bahwa Nabi Musa merupakan keturunan ke-16 dari Nabi Nuh.
Artinya, terdapat terpaut sekitar 10 generasi atau diperkirakan mencapai 1.000 tahun antara keduanya. Fakta bahwa Nabi Khidir masih hidup saat bertemu Nabi Musa menunjukkan kekuasaan Allah SWT dalam memanjangkan usia hamba-Nya.
- Nabi Khidir: Keturunan ke-6 dari Nabi Nuh AS.
- Nabi Musa: Keturunan ke-16 dari Nabi Nuh AS.
- Selisih: 10 generasi (estimasi 1.000 tahun).
Baca juga: Benarkah Nabi Khidir Penasihat Perang Zulkarnain Ini Faktanya
Perdebatan: Apakah Nabi Khidir masih Hidup?
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai apakah Nabi Khidir masih hidup hingga saat ini:
- Pendapat Mayoritas (Jumhur) Ulama dan Sufi: Imam Nawawi dalam Syarah Muslim menyatakan bahwa mayoritas ulama berpendapat Nabi Khidir masih hidup (hayyun maujud) di tengah-tengah kita. Pandangan ini disepakati oleh kalangan sufi dan didukung oleh ulama seperti Ibnu Hajar yang menyamakannya dengan keberadaan Nabi Isa AS yang belum wafat.
- Pendapat yang Menyatakan Sudah Wafat: Di sisi lain, ulama besar seperti Imam Bukhari meyakini bahwa Nabi Khidir telah wafat. Argumen yang sering diajukan adalah jika beliau masih hidup, mengapa beliau tidak hadir membantu Rasulullah SAW dalam Perang Badar atau Perang Uhud.
Baca juga: Urutan 30 Surat Juz Amma Lengkap Arab, Latin, dan Arti
Kisah Perjumpaan dan Keberkahan Orangtua
Dalam literatur tasawuf, perjumpaan dengan Nabi Khidir dianggap sebagai suatu karomah. Salah satu kisah yang masyhur adalah pertemuan Bilal Al-Khawas dengan Nabi Khidir.
Dalam pertemuan tersebut, Nabi Khidir memberikan kesaksian tentang kemuliaan para imam, seperti Imam Syafi’i yang disebut sebagai bagian dari Wali Abdal dan Imam Ahmad bin Hambal sebagai Rajulun Shodiq (orang yang sangat jujur).
Ketika Bilal bertanya bagaimana ia bisa bertemu dengan Nabi Khidir, jawabannya sangat menyentuh, “Bibarokati ummik” (karena keberkahan ibumu). Hal ini menunjukkan bahwa bakti kepada orangtua merupakan wasilah atau perantara besar bagi seorang hamba untuk mendapatkan keistimewaan dan kemuliaan dari Allah SWT.
Baca juga: Daftar Asbabun Nuzul Surat dalam Juz 30 Juz Amma
Kesimpulan
Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai status kewafatannya, riwayat-riwayat mengenai Nabi Khidir dianggap valid oleh banyak ulama sejarah dan hadis, termasuk Imam Al-Baihaqi dalam Manaqibus Syafi’i. Bagi umat Islam, fenomena Nabi Khidir adalah bukti nyata kekuasaan Allah yang tidak terbatas oleh hukum alam biasa, sekaligus pengingat akan pentingnya ilmu batin dan bakti kepada orangtua. (I-2)
