
EKONOMI digital berbasis aplikasi ride-hailing di Asia Tenggara terus berkembang melampaui perannya sebagai layanan transportasi dan pengantaran. Model bisnis tersebut kini tidak hanya menjadi penghubung antara pengguna dan layanan, tetapi juga membentuk sistem ekonomi baru yang menciptakan pendapatan, membuka akses kerja, serta menjadi kanal utama implementasi agenda keberlanjutan lingkungan dan sosial di berbagai negara di kawasan ini.
Salah satunya ditunjukkan oleh Grab. Dalam laporan ESG 2025, Grab mencatat total pendapatan mitra di Asia Tenggara mencapai US$15,3 miliar, tumbuh 19% secara tahunan. Angka ini menunjukkan skala ekonomi yang terbentuk di dalam ekosistem Grab, di mana jutaan mitra pengemudi dan merchant menjadi bagian dari struktur ekonomi digital yang semakin terintegrasi di kawasan.
Seiring dengan besarnya skala ekonomi tersebut, implementasi agenda keberlanjutan Grab di tingkat operasional juga semakin terlihat, termasuk di Indonesia. Salah satu wujudnya adalah percepatan elektrifikasi armada yang kini mengoperasikan lebih dari 14.000 kendaraan listrik aktif, terdiri dari kendaraan roda dua dan roda empat.
Operasional ini didukung infrastruktur penukaran baterai yang tersebar di berbagai wilayah, sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan menuju target netral karbon pada 2040.
Namun, di luar aspek lingkungan, dimensi sosial menjadi porsi terbesar dalam ekspansi dampak Grab. Sepanjang 2025, lebih dari 189.000 perempuan dan penyandang disabilitas tercatat memperoleh penghasilan melalui ekosistem Grab, meningkat 40% dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini menempatkan inklusi ekonomi sebagai salah satu pilar utama dalam strategi ESG perusahaan.
Director of Digital and Sustainability Grab Indonesia, Rivana Mezaya, mengatakan keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga akses terhadap peluang ekonomi yang lebih luas.
“Di Grab, kami percaya bahwa keberlanjutan bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga tentang bagaimana teknologi dapat membantu lebih banyak orang memperoleh kesempatan untuk tumbuh. Karena itu, kami terus menghadirkan berbagai inisiatif yang mendukung kesejahteraan mitra, memperluas akses ekonomi bagi kelompok minoritas, serta mendorong solusi lingkungan yang memberikan manfaat jangka panjang,” ujar Rivana.
Pernyataan tersebut mencerminkan pergeseran definisi ESG di sektor teknologi, dari pendekatan yang bersifat kepatuhan menjadi berbasis dampak. Ukuran keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh emisi karbon, tetapi juga oleh sejauh mana platform mampu menciptakan akses ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Di sisi kebijakan internal, Grab mengalokasikan Rp100 miliar melalui program ‘Komitmen untuk Indonesia’ yang difokuskan pada perlindungan sosial, apresiasi, dan pengembangan kapasitas Mitra Pengemudi. Program ini dijalankan melalui tiga pilar utama, mulai dari perlindungan sosial hingga pelatihan peningkatan keterampilan.
Pada pilar perlindungan, Grab memfasilitasi BPJS Ketenagakerjaan gratis bagi lebih dari 200.000 Mitra Pengemudi berprestasi. Pada pilar apresiasi, perusahaan memberikan Bonus Hari Raya serta program perjalanan ibadah bagi Mitra berprestasi. Sementara pada pilar pengembangan, GrabAcademy menjadi kanal pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dan mobilitas ekonomi Mitra.
Selain sektor transportasi, dampak ekonomi digital Grab juga meluas ke UMKM. Lebih dari 200.000 pelaku usaha kecil di 16 kota telah terhubung ke ekosistem digital Grab melalui program pengembangan berbasis teknologi, memperkuat peran perusahaan sebagai kanal distribusi ekonomi lokal di Indonesia.
Di bidang lingkungan, Grab juga memperluas inisiatif berbasis teknologi melalui kontribusi pengguna untuk konservasi dan restorasi ekosistem. Program tersebut mencakup perlindungan lebih dari 149.800 hektare kawasan gambut di Kalimantan Tengah, serta penanaman mangrove di wilayah pesisir seperti Pati dan Cilacap sebagai bagian dari mitigasi perubahan iklim.
Selain itu, Grab juga bekerja sama dengan WRI Indonesia dan Bestari Sustainability untuk menghadirkan Sustainable Packaging Playbook, yang membantu mitra UMKM beralih dari kemasan sekali pakai ke opsi yang lebih ramah lingkungan dan dapat didaur ulang.
Dengan skala yang semakin besar, Grab kini berada pada persimpangan antara pertumbuhan bisnis dan tanggung jawab sosial-lingkungan. Di satu sisi, perusahaan menjadi penggerak ekonomi digital di Asia Tenggara; di sisi lain, ia juga memikul peran sebagai infrastruktur sosial yang memengaruhi akses pendapatan, inklusi, dan keberlanjutan lingkungan secara bersamaan. (E-4)
