
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian resmi menandatangani kesepakatan bersejarah pekan ini. Pakta tersebut memungkinkan Republik Islam Iran untuk menjual minyak mentah dan bahan bakar seperti diesel di pasar terbuka untuk pertama kali sejak 2018.
Kesepakatan itu mencakup penghapusan sanksi yang selama ini melumpuhkan ekonomi Teheran, sekaligus membuka jalan bagi layanan perbankan, transportasi, dan asuransi untuk memfasilitasi transaksi internasional. Langkah ini diambil di tengah dinamika geopolitik yang cepat, termasuk gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang disepakati pada Jumat (19/6/2026) waktu setempat.
Pemulihan Ekspor dan Pencabutan Blokade
Militer AS mengonfirmasi telah mencabut blokade selama dua bulan yang sempat menekan pengiriman minyak Iran hingga titik terendah, yakni sekitar 260.000 barel per hari pada bulan lalu. Sebagai perbandingan, data dari penyedia data komoditas Kpler menunjukkan bahwa pada periode tiga bulan yang berakhir April, Iran mampu memuat sekitar 1,85 juta barel per hari.
Sebagai langkah awal, Teheran dilaporkan menyepakati penjualan 10 juta barel minyak–setara dengan muatan lima supertanker–ke Tiongkok. Menurut Hamid Hosseini, juru bicara serikat eksportir minyak Iran, penjualan ini merupakan tahap pertama dalam membangun kembali arus ekspor minyak negara tersebut.
Analisis Pasar: Jika kesepakatan damai ini bertahan, Iran akan segera memuat tanker dengan minyak yang saat ini tersimpan di Pulau Kharg. Pusat minyak negara tersebut memiliki cadangan lebih dari 30 juta barel dalam tangki penyimpanan.
Tantangan Infrastruktur dan Logistik
Meski sanksi dicabut, Iran menghadapi jalan panjang untuk membangun kembali sektor minyaknya. Beberapa fasilitas sempat mengalami kerusakan akibat serangan pasukan AS dan Israel. Selain itu, Iran perlu mengosongkan tangki penyimpanan yang sudah penuh sebelum dapat meningkatkan produksi secara substansial.
Tantangan lain yaitu ketersediaan kapal tanker. Banyak kapal pengangkut minyak mentah sangat besar (VLCC) dialihkan ke Teluk Meksiko untuk menangani lonjakan ekspor minyak Amerika. Dibutuhkan waktu berminggu-minggu bagi kapal-kapal tersebut untuk kembali ke Teluk Persia.
Berdasarkan poin-poin kesepakatan, Iran juga memiliki waktu 30 hari untuk membersihkan ranjau yang sebelumnya mereka tebar di Selat Hormuz guna memastikan keamanan jalur pelayaran internasional.
Proyeksi Akhir Tahun 2026
Para analis memperkirakan produksi dan ekspor minyak dari Iran, Arab Saudi, dan produsen Teluk lain baru akan mendekati level normal pada akhir tahun 2026 atau awal 2027. Produksi Iran sendiri merosot ke angka 2,3 juta barel per hari pada Mei, turun dari 3,2 juta barel sebelum konflik pecah.
Jim Burkhard, kepala riset minyak mentah S&P Global Energy, menyatakan optimisme bahwa pendapatan dari penjualan minyak ini akan digunakan untuk memperbaiki sumur dan fasilitas minyak yang rusak di kawasan tersebut. “Saya pikir kita akan mendapatkan sebagian besar kapasitas produksi kembali pada akhir tahun ini,” ujarnya.
Keberhasilan Iran untuk kembali menjadi pemain utama dalam jangka panjang akan sangat bergantung pada posisi geopolitik AS, Tiongkok, dan Rusia, serta kemampuan Teheran menarik investor asing untuk memperbarui teknologi pengeboran mereka yang mulai tertinggal. (Wall Street Journal/I-2)
