
ASOSIASI Pengelola, Profesional, dan Ekosistem MBG Indonesia (APPEMI) resmi berdiri pada Jumat (19/6) di Jalan Kramat Raya Nomor 27-J, Jakarta Pusat. Ketua Umum DPP APPEMI, Akhmad Syarbini, memaparkan secara gamblang arah filosofis organisasi yang termaktub dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) APPEMI.
“Visi utama APPEMI adalah membangun ekosistem pengelola, profesional, pemasok pangan, dan UMKM olahan yang berdaulat, berdaya saing global, dan berkeadilan. Sesuai amanat AD/ART, misi suci kami adalah mengintegrasikan seluruh pengelola, professional, dan potensi pengusaha lokal, serta menjamin standardisasi mutu pasokan, dan menjadi jembatan inklusif yang menghubungkan hulu ke hilir demi terwujudnya ketahanan pangan nasional,” tegas Akhmad Syarbini.
Sebagai pengurus di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Abi–panggilan akrabnya–juga memberikan penekanan kuat pada fungsi fundamental APPEMI dalam hal advokasi dalam naungan Kadin. “APPEMI lahir untuk memastikan bahwa kepentingan pengelola, para pelaku usaha dan pemasok di daerah terlindungi. Kami akan menjalankan fungsi advokasi secara totalitas agar regulasi yang lahir berpihak pada keberlangsungan usaha anggota,” tambahnya.
Namun di sisi lain, lanjut dia, sebagai mitra terdepan pemerintah, APPEMI tetap kritis dan berkomitmen penuh untuk mengerahkan seluruh sumber daya untuk menyukseskan program-program strategis nasional, khususnya yang diorkestrasi oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Terkait dinamika regulasi dan kebijakan terkini, Abi juga memberikan catatan penting sekaligus harapan kepada nakhoda baru Badan Gizi Nasional (BGN). Ia mengingatkan agar pimpinan baru BGN tidak melupakan rekam jejak dan sejarah awal berdirinya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Pada masa-masa merintis itu, mencari mitra investor yang percaya pada ekosistem ini sangatlah sulit. Perjuangan berdarah-darah itu harus dihargai dengan cara tetap merangkul mitra-mitra lokal yang sejak awal memiliki komitmen. BGN dan ketahanan pangan tidak bisa dipisahkan dari peran para pengusaha yang berani mengambil risiko di masa awal,” cetus Abi. (I-2)
