Pakar Dorong Vaksinasi DBD di Tengah Ancaman Perubahan Iklim dan El Nino
Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Sukamto Koesnoe.(Dok. Antara)

PAKAR kesehatan mendorong penguatan upaya pencegahan demam berdarah dengue (DBD) melalui vaksinasi DBD bagi anak-anak maupun orang dewasa. Langkah ini dinilai krusial di tengah meningkatnya risiko penyebaran penyakit akibat perubahan iklim dan fenomena El Nino yang diprediksi akan berlanjut hingga akhir 2026.

Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Sukamto Koesnoe, menjelaskan bahwa kenaikan suhu bumi berdampak langsung pada perilaku nyamuk Aedes aegypti. Menurutnya, suhu yang lebih panas membuat frekuensi nyamuk menghisap darah menjadi lebih sering.

“Jika pada suhu normal nyamuk menggigit setiap lima hari, pada suhu yang lebih tinggi frekuensinya bisa menjadi setiap dua hari. Ini meningkatkan risiko penularan dengue secara signifikan,” ujar Sukamto dalam keterangannya, Jumat (19/6/2026).

Selain faktor biologis nyamuk, kondisi kering yang menyertai El Nino memicu masyarakat untuk lebih banyak menyimpan air dalam wadah. Jika tidak dikelola dengan baik melalui praktik 3M Plus, wadah-wadah tersebut justru menjadi tempat ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak.

Ancaman pada Usia Produktif dan Komorbid

Sukamto menekankan bahwa DBD bukan hanya ancaman bagi anak-anak. Data PAPDI menunjukkan lebih dari separuh kasus dengue terjadi pada kelompok usia dewasa, khususnya usia produktif antara 15 hingga 44 tahun.

Infeksi pada orang dewasa dapat memicu komplikasi serius, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) seperti:

  • Hipertensi dan penyakit jantung.
  • Diabetes melitus.
  • Penyakit ginjal kronis.
  • Asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

“Hingga kini, pengobatan dengue masih bersifat suportif, sehingga pencegahan melalui vaksinasi menjadi langkah utama untuk menurunkan risiko gejala berat dan kebutuhan rawat inap,” tambahnya. Vaksin dengue sendiri telah masuk dalam rekomendasi jadwal imunisasi dewasa PAPDI sejak 2025.

Kelompok Anak dan Risiko Infeksi Berulang

Di sisi lain, Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Hartono Gunardi, mengingatkan bahwa anak-anak tetap menjadi kelompok paling rentan. Data menunjukkan hampir 48 persen kasus terjadi pada anak di bawah 14 tahun, dengan angka kematian tertinggi berada pada rentang usia 5 hingga 14 tahun.

Hartono menjelaskan tantangan utama virus dengue adalah keberadaan empat serotipe yang berbeda. Seseorang yang pernah terinfeksi satu jenis serotipe tidak otomatis kebal terhadap jenis lainnya.

“Seseorang masih dapat terinfeksi kembali oleh serotipe lain dengan risiko gejala yang jauh lebih berat. Perjalanan penyakit ini bisa memburuk dengan sangat cepat saat pasien memasuki fase kritis,” tegas Hartono.

Dengan tantangan iklim yang diprediksi masih akan ekstrem hingga akhir tahun 2026, sinergi antara vaksinasi DBD dan kebersihan lingkungan menjadi kunci utama dalam menekan angka kesakitan dan kematian akibat DBD di Indonesia. (Ant/H-3)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *