
PEMERINTAH Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) yang menjadi landasan bagi kedua negara untuk melanjutkan proses diplomasi dan pembahasan berbagai isu strategis yang selama ini menjadi sumber ketegangan.
Ketua Pusat Kajian Wilayah Amerika Universitas Indonesia (UI), Suzie Sudarman menilai kesepakatan tersebut berpotensi meredakan konflik yang selama ini membayangi kawasan Timur Tengah. Menurutnya, perhatian utama saat ini tertuju pada kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
“Iya jelas semua menunggu dibukanya Selat Hormuz. Israel sudah ditinggal Presiden Trump dan tidak mampu berjalan sendiri tanpa Trump,” kata Suzie dihubungi Media Indonesia, Kamis (18/6).
Ia menilai Iran memperoleh kepentingan yang selama ini diinginkannya melalui kesepakatan tersebut. Di sisi lain, kedua negara juga memiliki ruang untuk mengeklaim keberhasilan diplomatik masing-masing. “Iran memperoleh apa yang dibutuhkannya dua negara bisa mendeklarasikan kemenangan,” ujarnya.
Mengenai pihak yang paling diuntungkan dan dirugikan dari MoU tersebut, baik dari sisi geopolitik, keamanan regional, maupun kepentingan ekonomi global, Suzie menilai AS dan Iran sama-sama mendapatkan manfaat. “Sementara baik AS maupun Iran memperoleh apa yang diinginkan. Israel yang tercampakkan,” ucapnya.
Menurut Suzie, posisi Israel menjadi yang paling terdampak dari kesepakatan tersebut karena berpotensi kehilangan dukungan penuh yang sebelumnya diberikan Washington dalam menghadapi Iran.
Terkait keberlangsungan MoU di masa mendatang, termasuk jika terjadi pergantian kepemimpinan politik di AS maupun Iran, Suzie menilai peluang kesepakatan itu untuk tetap bertahan cukup besar. Ia menegaskan bahwa nota kesepahaman merupakan instrumen diplomatik yang umum digunakan dalam hubungan internasional.
“MoU banyak dibuat sekalipun tidak jadi wujud dalam kesepakatan tetapi aman karena AS Lebih khawatir akan tindakan Iran dibandingkan Iran takut akan AS,” ujarnya.
Menurutnya, faktor kepentingan strategis kedua negara akan menjadi salah satu penentu utama dalam menjaga keberlangsungan komunikasi dan diplomasi yang telah dibangun melalui MoU tersebut. (Fer/P-3)
