
Selama ini, masyarakat umum lebih mengenal Diabetes Tipe 1 yang bersifat genetik atau Diabetes Tipe 2 yang sering dikaitkan dengan gaya hidup dan obesitas. Namun, para ahli kesehatan kini mulai menyoroti fenomena medis yang dikenal sebagai Diabetes Tipe 5 atau Malnutrition-Modulated Diabetes Mellitus (MMDM).
Berbeda dengan tipe lainnya, Diabetes Tipe 5 memiliki karakteristik unik karena justru sering menyerang individu dengan indeks massa tubuh (IMT) rendah atau bertubuh kurus. Fenomena ini dilaporkan lebih banyak ditemukan di negara-negara berkembang, termasuk di kawasan Asia dan Afrika.
Apa Itu Diabetes Tipe 5?
Diabetes Tipe 5 merupakan kondisi gangguan kadar gula darah yang secara spesifik dikaitkan dengan riwayat kekurangan gizi (malnutrisi) pada masa awal kehidupan, baik saat di dalam kandungan maupun pada masa kanak-kanak. Kondisi ini menyebabkan pankreas tidak mampu berkembang secara optimal, sehingga fungsi sekresi insulin terganggu secara permanen.
Meskipun penderitanya tidak memiliki kelebihan lemak tubuh, sel-sel dalam tubuh mereka tetap mengalami kesulitan dalam memproses glukosa. Hal inilah yang membedakannya secara signifikan dari Diabetes Tipe 2 yang biasanya dipicu oleh resistensi insulin akibat penumpukan lemak.
Karakteristik dan Gejala Utama
Berdasarkan pengamatan klinis, terdapat beberapa ciri khas yang membedakan Diabetes Tipe 5 dari jenis diabetes lainnya:
- Tubuh Kurus: Penderita umumnya memiliki postur tubuh yang sangat ramping dan sulit untuk menaikkan berat badan.
- Usia Muda: Sering kali terdiagnosis pada usia remaja atau dewasa muda.
- Resistensi terhadap Ketosis: Berbeda dengan Tipe 1, penderita Tipe 5 jarang mengalami ketoasidosis meskipun kadar gula darahnya sangat tinggi.
- Kebutuhan Insulin Tinggi: Meski bertubuh kecil, penderita sering kali membutuhkan dosis insulin yang relatif besar untuk mengontrol gula darah.
Catatan Redaksi: Data mengenai klasifikasi Diabetes Tipe 5 saat ini masih terus divalidasi oleh para peneliti medis global untuk dimasukkan ke dalam standar klasifikasi WHO secara lebih spesifik.
Mengapa Kerap Terjadi di Negara Berkembang?
Prevalensi Diabetes Tipe 5 yang tinggi di negara berkembang erat kaitannya dengan masalah ketahanan pangan dan kualitas nutrisi. Kemiskinan yang menyebabkan asupan protein dan mikronutrien rendah pada ibu hamil dan balita menjadi faktor risiko utama.
Ketika seorang anak yang mengalami malnutrisi kronis tumbuh dewasa dan mulai terpapar pada pola makan tinggi karbohidrat (meskipun jumlah kalorinya tidak berlebih), pankreas yang sudah “lemah” sejak awal tidak mampu mengimbangi beban kerja tersebut. Akibatnya, kadar gula darah melonjak drastis.
Langkah Pencegahan dan Penanganan
Hingga saat ini, penanganan Diabetes Tipe 5 difokuskan pada manajemen diet yang tepat dan terapi insulin sesuai anjuran dokter. Karena penyebab utamanya adalah faktor nutrisi masa lalu, langkah pencegahan terbaik adalah memastikan kecukupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan anak.
Masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan pemeriksaan gula darah meskipun memiliki berat badan ideal atau kurus. Deteksi dini tetap menjadi kunci utama dalam mencegah komplikasi jangka panjang seperti kerusakan saraf, gangguan ginjal, dan penyakit jantung.
