Dua Desa di Cilacap Mulai Alami Krisis Air Bersih, BPBD Salurkan Bantuan
BPBD Cilacap menyalurkan bantuan air bersih.(MI/Lilik Darmawan)

MEMASUKI musim kemarau 2026, dua desa di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah mulai mengalami krisis air bersih akibat menurunnya ketersediaan sumber air. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap bergerak menyalurkan bantuan air bersih guna memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap, Taryo, mengatakan dua desa yang saat ini terdampak kekeringan adalah Desa Kedungbenda, Kecamatan Nusawungu, dan Desa Karangkemiri, Kecamatan Jeruklegi. “BPBD telah mendistribusikan bantuan air bersih ke dua desa yang terdampak kekeringan,” ujar Taryo, Rabu (17/6).

Hingga pertengahan Juni 2026, BPBD bersama unit pelaksana teknis penanggulangan bencana telah menyalurkan total 23.000 liter air bersih ke wilayah terdampak. Di Desa Kedungbenda, distribusi dilakukan pada 9 Juni 2026 dengan volume bantuan sebanyak 3.000 liter yang disalurkan ke tiga titik di RT 1 dan RT 4 RW 3 Dusun Api-Api. Bantuan tersebut diperuntukkan bagi 40 kepala keluarga atau 120 jiwa yang mulai kesulitan memperoleh air bersih akibat berkurangnya pasokan air.

Sementara itu, di Desa Karangkemiri, Kecamatan Jeruklegi, BPBD telah mengirimkan 20.000 liter air bersih untuk membantu warga yang terdampak kekeringan. Berdasarkan hasil kaji cepat yang dilakukan pada 15 Juni 2026, wilayah Dusun Karangkemiri RT 05 RW 01 mengalami penurunan ketersediaan air bersih akibat menyusutnya debit sumber air yang selama ini menjadi andalan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.

Hasil asesmen menunjukkan sebanyak 49 kepala keluarga atau 192 jiwa terdampak kondisi tersebut. Sejumlah sumur warga mengalami penurunan debit air sehingga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan harian.

Akibat kondisi itu, sebagian warga terpaksa mencari sumber air dari lokasi yang lebih jauh. Untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan, BPBD melakukan distribusi air bersih secara berkala.

“Selain penyaluran bantuan, BPBD juga berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat, memantau perkembangan kondisi sumber air, serta memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya penghematan penggunaan air selama musim kemarau,”katanya.

Taryo menegaskan, pihaknya akan terus memonitor perkembangan situasi di lapangan dan menyiapkan bantuan lanjutan apabila kekeringan semakin meluas atau berlangsung lebih lama.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah desa, kecamatan, dan instansi terkait perlu terus diperkuat agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau.

“BPBD juga mendorong adanya langkah jangka menengah berupa penguatan sarana penyediaan air bersih untuk meningkatkan ketahanan masyarakat menghadapi ancaman kekeringan pada musim kemarau di tahun-tahun mendatang,”tambahnya. (LD/E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *