Elpiji 3 Kg Langka di Aceh, Ibu Rumah Tangga Berburu dari Kampung ke Kampung
Warga antre elpiji 3 kg di kawasan Kecamatan Delima, Pidie, Aceh.(MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)

PAGI hari yang biasanya dimulai dengan aktivitas rutin menyalakan kompor kini berubah menjadi kegelisahan bagi banyak ibu rumah tangga di sejumlah wilayah Provinsi Aceh. Sudah dua pekan terakhir, ketersediaan gas elpiji 3 kilogram (kg) atau yang akrab disapa “gas melon” mengalami kelangkaan serius, memaksa warga berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain.

Berdasarkan pantauan Media Indonesia di lapangan, wilayah yang terdampak paling parah oleh kelangkaan bahan bakar bersubsidi ini meliputi Kabupaten Pidie dan Kabupaten Aceh Singkil. Di Kabupaten Pidie, puluhan pangkalan yang biasanya menjadi tumpuan warga kini terpantau kosong melompong.

Demi menjaga asap dapur tetap mengepul, para ibu rumah tangga di Aceh rela menyusuri kampung demi kampung untuk mencari gas elpiji 3 kilogram. Namun, langkah mereka kerap berakhir dengan kekecewaan karena tabung gas melon yang dicari tak kunjung ditemukan.

Beberapa titik yang mengalami krisis distribusi paling signifikan di antaranya adalah Kecamatan Indrajaya, Kecamatan Peukan Baro, Kecamatan Delima, Kecamatan Kota Sigli, dan Kecamatan Pidie

“Sudah sepekan tidak masuk gas elpiji melon. Padahal biasanya tidak sampai berlarut-larut terjadi kelangkaan,” ujar Ummi, salah seorang pemilik pangkalan elpiji di Garot, Kecamatan Indrajaya, Selasa (16/6/2026).

Kelangkaan ini tidak hanya menyulitkan warga dalam mendapatkan barang, tetapi juga memicu lonjakan harga yang tidak terkendali di tingkat pengecer tidak resmi. Di kawasan Kecamatan Kota Sigli, duit yang harus dikeluarkan warga jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Perbandingan Harga Elpiji 3 Kg di Pidie:





Harga Resmi (HET) Rp20.000 per tabung
Harga di Pengecer Liar Rp33.000 per tabung

Meski harga tersebut mencekik kantong masyarakat kecil, warga terpaksa membelinya karena tidak memiliki alternatif bahan bakar lain. Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti penyebab tersendatnya pasokan ke pangkalan resmi, sementara stok justru ditemukan di kios-kios tidak resmi dengan harga tinggi.

Dampak bagi Pelaku Usaha Kecil

Selain ibu rumah tangga, para pemilik warung makanan juga mulai mengeluhkan kondisi ini. Ketidakpastian pasokan gas melon mengancam keberlangsungan usaha mikro yang sangat bergantung pada bahan bakar bersubsidi untuk menekan biaya operasional.

Warga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke jalur distribusi untuk memastikan kuota elpiji bersubsidi benar-benar sampai ke tangan masyarakat yang berhak, bukan justru dipermainkan oleh spekulan di tengah krisis. (MR/I-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *