Netanyahu Tegaskan Israel Akan Tetap Beroperasi di Libanon Meski AS dan Iran Capai Kesepakatan
Benjamin Netanyahu(AFP/Drew ANGERER)

PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa negaranya akan terus melanjutkan operasi keamanan di Libanon meskipun Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri ketegangan di kawasan.

Dalam pernyataannya pada Senin (15/6), Netanyahu menekankan bahwa Israel belum akan menarik pasukannya dari wilayah Libanon selama masih terdapat ancaman terhadap keamanan nasional.

“Israel harus terus berjaga-jaga, terus menjadi kuat, dan terus bertekad untuk membela diri sebisa mungkin,” kata Netanyahu, dilansir Jerussalem Post, Selasa (16/6).

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah konflik yang masih berlangsung di sejumlah front sejak pecahnya perang setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Selain konflik di Jalur Gaza, Israel juga terlibat dalam konfrontasi dengan Hizbullah di Libanon serta menghadapi ketegangan di Suriah.

Menurut Netanyahu, sebagian besar pihak yang terlibat dalam serangan Hamas telah berhasil dilumpuhkan oleh militer Israel. Namun, ia menyatakan masih terdapat ancaman yang harus ditangani.

“Dia juga akan dilenyapkan. Israel tidak akan membiarkan organisasi teroris berkemah di perbatasan kita,” ucap Netanyahu.

“Kami akan tetap berada di zona penyangga keamanan Libanon selama diperlukan,” lanjutnya.

Pernyataan tersebut menjadi komentar publik pertama Netanyahu setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan dengan Iran.

Trump sebelumnya menyebut kesepakatan itu mencakup pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran. 

Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan kesepakatan tersebut juga mencakup upaya penghentian pertempuran di berbagai front konflik, termasuk Libanon.

Meski demikian, sejumlah pejabat dan menteri Israel secara terbuka menyatakan bahwa negaranya tidak terikat oleh kesepakatan tersebut karena tidak ikut serta dalam proses perundingan.

Dalam pidatonya, Netanyahu juga menyinggung isu program nuklir Iran. Ia menegaskan bahwa Israel tetap berkomitmen mencegah Teheran memiliki senjata nuklir, terlepas dari ada atau tidaknya kesepakatan internasional.

Selain itu, Netanyahu membela keputusan Israel melakukan serangan terhadap Iran dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, langkah tersebut berhasil mengurangi ancaman langsung terhadap keamanan Israel.

“Bersama dengan teman-teman Amerika, kita memulai misi serangan terbesar dalam sejarah Israel. Kita telah menggagalkan para ilmuwan nuklir, membunuh para pemimpin rezim teroris, menghancurkan pabrik-pabrik nuklir, menghancurkan rudal dan sebagian besar pabrik produsen rudal,” kata Netanyahu.

“Kita telah menyebabkan kerusakan yang sangat besar. Kita memperkirakan kerugiannya mencapai ratusan miliar dolar, dan beberapa memperkirakan bahkan mendekati satu triliun dolar. Ini kerusakan yang sangat besar bagi perekonomian Iran yang butuh waktu puluhan tahun untuk diperbaiki,” ujarnya.

Netanyahu juga menyinggung hubungannya dengan Presiden Trump. Ia mengakui bahwa keduanya tidak selalu memiliki pandangan yang sama dalam setiap isu, namun menegaskan bahwa kepentingan keamanan Israel akan tetap menjadi prioritas utama pemerintahannya.

Sementara itu, Amerika Serikat dan Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan setelah melalui sejumlah putaran negosiasi yang berlangsung intensif. Nota kesepahaman (MoU) antara kedua negara disebut dijadwalkan ditandatangani di Swiss pada 19 Juni.

Hingga kini, rincian isi kesepakatan tersebut belum dipublikasikan. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa detail MoU akan diumumkan kepada publik sebelum proses penandatanganan resmi dilakukan. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *