
WAKIL Presiden AS JD Vance mengungkapkan bahwa nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait perjanjian damai belum dipublikasikan karena masih ada sejumlah detail teknis yang perlu diselesaikan.
“Beberapa detail teknis yang perlu diselesaikan, yang tidak berkaitan dengan isi MoU, melainkan dengan pelaksanaannya,” ujar Vance kepada NBC News, Selasa (16/6).
Vance juga menyebut peran dua negara yakni Qatar dan Pakistan yang membantu memfasilitasi perjanjian tersebut.
“Jika Iran mematuhi ketentuan dalam kesepakatan tersebut, maka manfaat akan mengalir kepada mereka,” ucap Vance.
Vance mengatakan bahwa Iran diharapkan menjadi negara yang sukses dan bertindak layaknya negara normal. Ia berharap dalam jangka panjang, Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.
Adapun salah satu poin utama dalam MoU tersebut adalah bantuan dari AS dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memusnahkan stok uranium milik Iran. Ia menjelaskan bahwa IAEA dan Amerika Serikat akan membantu Iran menghancurkan persediaan uranium.
Presiden AS Donald Trump dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan telah melakukan finalisasi nota kesepahaman antara AS dan Iran, Minggu (14/6). Nota kesepakatan itu ditandatangani secara resmi di Swis pada 19 Juni 2026. (Ant/H-4)
