
SEBUAH video yang memperlihatkan seekor parasit merayap keluar dari potongan sashimi di salah satu restoran sushi di Hong Kong baru-baru ini viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, seorang pelanggan menemukan cacing berbentuk linear pada ikan kinmedai sesaat sebelum menyantapnya. Insiden ini telah dilaporkan ke otoritas keamanan pangan setempat dan memicu kekhawatiran global mengenai keamanan konsumsi hidangan laut mentah.
Menanggapi fenomena tersebut, dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, memberikan peringatan serius. Ia menekankan bahwa mengonsumsi ikan mentah tanpa prosedur keamanan yang ketat membawa risiko infeksi parasit yang nyata bagi kesehatan manusia.
Risiko Kesehatan dan Gejala Infeksi
Menurut Karina, ikan mentah berpotensi menjadi inang bagi berbagai jenis parasit berbahaya. Infeksi ini tidak hanya menyebabkan gangguan pencernaan ringan, tetapi dalam kondisi kronis dapat memicu komplikasi organ yang serius.
- Jenis Parasit: Cacing pita (Diphyllobothrium spp), nematoda, trematoda, dan protozoa.
- Gejala Akut (1-14 hari): Mual, muntah, diare (terkadang berdarah), nyeri perut, pusing, demam, dan menggigil.
- Dampak Kronis: Anemia, penurunan berat badan drastis, defisiensi vitamin B12, hingga peradangan saluran empedu (kolangitis) atau pankreas (pankreatitis).
Standar Keamanan Pangan: Kunci Mematikan Parasit
Meskipun berisiko, Karina menjelaskan bahwa ancaman parasit dapat diminimalisir melalui penerapan standar keamanan pangan yang tepat. Restoran memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan proses penyimpanan dan pengolahan dilakukan sesuai prosedur ilmiah guna mematikan larva parasit.
Berikut adalah parameter teknis untuk memastikan keamanan ikan sebelum dikonsumsi:
| Metode Pencegahan | Ketentuan Teknis |
|---|---|
| Pemasakan (Thermal) | Suhu minimal 55°C selama 5 menit. |
| Pembekuan Ekstrem A | Suhu -20°C selama 7 hari. |
| Pembekuan Ekstrem B | Suhu -35°C selama 15 jam (untuk ketebalan daging < 15 cm). |
Edukasi bagi Konsumen dan Sanitasi Lingkungan
Selain pengawasan di tingkat restoran, Karina mengimbau masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih tempat makan. Bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, ia sangat menyarankan untuk memilih menu sushi dengan bahan ikan yang telah dimasak matang sempurna.
Lebih jauh lagi, ia menyoroti pentingnya sistem sanitasi masyarakat dalam memutus rantai penyebaran parasit secara global. Pengelolaan limbah feses melalui penggunaan septic tank yang standar sangat krusial agar telur parasit tidak mencemari ekosistem perairan yang menjadi habitat ikan.
Dengan sinergi antara standar restoran yang ketat, pilihan konsumen yang cerdas, dan sanitasi lingkungan yang baik, risiko kesehatan dari konsumsi hidangan laut dapat ditekan secara signifikan. (Z-1)
