
UMAT Islam menyambut tahun baru Hijriah 1 Muharam 1448 H. Di Kota Suci Mekah, Arab Saudi, momentum pergantian tahun ini ditandai secara simbolis melalui prosesi penggantian kiswah atau kain penutup Ka’bah di Masjidil Haram. Prosesi sakral tersebut berlangsung pada Senin (15/6), dimulai pukul 16.00 waktu Arab Saudi hingga tengah malam.
Kiswah merupakan kain megah penutup Ka’bah yang ditenun dari sutra hitam pilihan. Keindahannya dipertegas oleh sulaman kaligrafi ayat-ayat suci Al-Qur’an. Komposisi hiasan tersebut memanfaatkan benang emas dan perak murni, yang dikerjakan secara presisi oleh para perajin ahli di kompleks khusus pembuatan kiswah di Mekah.
Kepala Seksi Bimbingan Ibadah Daerah Kerja (Daker) Mekah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Erti Herlina mengungkapkan bahwa pergantian kiswah bukan sekadar ritual tahunan, melainkan simbol pembaruan spiritual sekaligus penanda lahirnya semangat baru bagi umat Islam.
“Momen pergantian kiswah di Masjidil Haram pada 1 Muharam ini menjadi simbol bahwa tahun baru Islam dipilih sebagai penanda lahirnya semangat baru dan pencucian diri,” ujar Erti di Mekah, Arab Saudi, Senin (15/6).
Selain sarat makna spiritual, Erti menambahkan, penggantian ini esensial untuk menjaga kesucian, kebersihan, dan estetika penutup Ka’bah. Terlebih, kain suci disentuh jutaan jemaah haji dan umrah yang melakukan tawaf sepanjang tahun.
Pada kesempatan yang sama, Erti juga mengulas pergeseran historis waktu pelaksanaan prosesi ini. Beberapa tahun lalu, tradisi penggantian kain penutup Ka’bah rutin digelar setiap 9 Zulhijah, bertepatan saat jemaah haji melaksanakan wukuf di Arafah.
“Saya pernah mengalami tahun 2018 itu (pergantian kiswah) pada 9 Zulhijah atau malam Arafah. Raja Salman memutuskan untuk mengganti dari 9 Zulhijah menjadi 1 Muharam itu pada tahun 2022 atau 1444 Hijriah,” kata Erti.
Erti merefleksikan bahwa transformasi visual Ka’bah ini sejatinya menjadi cermin bagi umat manusia. Seperti kiswah yang digantikan kain baru yang bersih, manusia pun diimbau meninggalkan kekhilafan masa lalu demi menyongsong masa depan yang lebih baik.
“Ketika hal-hal itu masih tersimpan, hal-hal jelek di masa lalu, maka kita akan buang dan kita akan perbaiki untuk masa yang akan datang dengan tekad yang baru, dengan semangat yang baru, dengan kesucian yang baru,” ujarnya. (H-4)
