BMKG Prediksi Kemarau di Malang Raya Berlangsung hingga November 2026
BMKG memperkirakan musim kemarau di Malang Raya berlangsung hingga November 2026 akibat fenomena El Nino.(Dok. Antara)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur memprediksi musim kemarau di wilayah Malang Raya akan berlangsung lebih lama hingga periode Oktober-November 2026. Kondisi ini dipicu oleh fenomena El Nino yang diperkirakan bertahan hingga awal 2027.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Linda Fitrotul, mengungkapkan bahwa awal musim kemarau di wilayah yang mencakup Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu ini sebenarnya telah dimulai sejak dasarian I Mei 2026.

“Awal musim kemarau sudah dimulai sejak dasarian pertama bulan Mei dan kemungkinan akan berlangsung sampai Oktober dan November 2026. Saat ini hampir 75% wilayah Malang Raya sudah masuk musim kemarau,” ujar Linda di Malang, Minggu (14/6).

Meskipun sebagian besar wilayah telah memasuki musim kering, BMKG mencatat beberapa titik masih berada dalam masa peralihan (pancaroba). Wilayah tersebut terutama berada di bagian tenggara Kabupaten Malang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lumajang.

Linda menjelaskan bahwa berdasarkan analisis data, durasi kemarau tahun ini diprediksi akan jauh lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kehadiran El Nino memperkuat karakteristik musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur.

Menyikapi kondisi tersebut, BMKG mengeluarkan peringatan dini bagi masyarakat untuk mewaspadai sejumlah dampak negatif. Potensi penurunan debit air serta risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman utama, terutama di kawasan lereng gunung.

“Karena prediksinya musim kemarau untuk tahun ini akan lebih panjang untuk beberapa wilayah, kami mengimbau masyarakat supaya lebih waspada dan bijak dalam menyikapi kondisi cuaca ke depan,” pungkasnya.

Imbauan BMKG untuk Masyarakat Malang Raya:

  • Menghemat penggunaan air bersih mengantisipasi penurunan debit air.
  • Menghindari aktivitas pembakaran lahan yang memicu karhutla.
  • Waspada terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa peralihan di wilayah tertentu. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *