
SKENA seni urban dan subkultur independen Jakarta resmi menginvasi Jepang lewat pameran seni kolektif bertajuk “Cultural Clashing”. Ekshibisi yang digawangi oleh musisi sekaligus ikon seni ternama tanah air, Sir Dandy, ini memamerkan karya-karya orisinal dari 16 seniman kontemporer Indonesia di Distrik Tenjin, Fukuoka, mulai 13 Juni hingga 21 Juni 2026.
Pameran internasional ini terselenggara atas kolaborasi apik antara GAAAT Gallery, Canvas Confluence Collective, dan Skandara. Fokus utama dari eksibisi ini adalah merekam dan merayakan titik temu antara musik, seni visual, dan gaya hidup urban yang saling membentuk wajah subkultur di Indonesia dari tahun 2000-an hingga era modern saat ini.
Jembatan Musik dan Seni Visual Urban Jakarta
Enam belas seniman yang terlibat dalam proyek ini dipilih berdasarkan keterikatan intim mereka dengan dunia musik independen tanah air. Sebagian dari mereka merupakan musisi aktif, sebagian besar dikenal lewat karya kolaborasi sampul album (artwork) ikonik, dan sebagian lainnya merupakan penggerak komunitas yang tumbuh di ekosistem musik urban Jakarta.
Melalui guratan visual di kanvas dan berbagai medium kontemporer, Cultural Clashing berupaya mendefinisikan kembali bahasa visual musik independen kepada publik Jepang.
Managing Director Skandara, Mayang Puspita Lestari, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi di Distrik Tenjin, Fukuoka, sangat strategis mengingat kawasan tersebut sudah lama dikenal sebagai salah satu titik peleburan dan persimpangan budaya terbesar di Asia.
“Bagi kami, Cultural Clashing bukan hanya tentang memamerkan karya seni Indonesia di Jepang. Lebih dari itu, ini adalah upaya untuk membangun jembatan antara seniman Indonesia dan Jepang, menciptakan ruang untuk saling mengenal, bertukar cerita, dan menemukan inspirasi baru satu sama lain,” kata Mayang dalam keterangan resminya.
Target Tembus Pasar Seni Internasional
Selain misi pertukaran budaya, Mayang menambahkan bahwa diplomasi seni ini ditargetkan mampu membuka penetrasi pasar industri kreatif Indonesia ke jaringan kolektor dan penikmat seni di Negeri Sakura secara berkelanjutan.
Guna memeriahkan eksibisi, pihak penyelenggara juga menjajakan berbagai produk merchandise eksklusif yang diproduksi dalam jumlah sangat terbatas (limited edition). Pengunjung galeri dapat berburu kaus, pin, hingga kartu pos (postcard) rancangan khusus para seniman yang tidak didistribusikan di wilayah lain di Jepang.
Melalui goresan estetika yang hidup dan berdenyut, langkah kecil dari kolektif seni Jakarta ini diharapkan mampu memicu kolaborasi kreatif jangka panjang yang melampaui batas-batas teritorial negara. (H-3)
