
Di tengah meningkatnya kesadaran sebagian perokok dewasa terhadap dampak kebiasaan merokok di lingkungan sekitar, produk tembakau alternatif seperti rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan semakin banyak dipilih sebagai alternatif konsumsi nikotin. Selain faktor praktis, aspek kenyamanan seperti tidak adanya bau asap yang menempel pada pakaian maupun ruangan menjadi salah satu alasan yang kerap disampaikan pengguna.
Ketua Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (Akvindo), Paido Siahaan, menilai tren tersebut menunjukkan adanya perubahan preferensi di kalangan perokok dewasa yang mulai mencari produk yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup mereka.
“Dari sisi konsumen, alasan utama mereka beralih ke produk tembakau alternatif adalah karena ingin mengurangi paparan asap rokok dan bau yang menempel. Konsumen menilai penggunaan produk tembakau alternatif terasa lebih bersih, lebih ringan, dan tidak terlalu mengganggu orang sekitar,” ujar Paido, Kamis (11/6).
Menurutnya, tidak adanya proses pembakaran seperti pada rokok konvensional menjadi salah satu faktor yang banyak dipertimbangkan konsumen. Asap hasil pembakaran tembakau umumnya meninggalkan residu dan bau yang dapat menempel pada pakaian, kendaraan, maupun ruangan dalam waktu cukup lama.
Paido mengatakan kenyamanan tersebut menjadi salah satu alasan yang mendorong sebagian perokok dewasa mulai mempertimbangkan produk tembakau alternatif.
“Banyak pengguna menyampaikan bahwa bau rokok yang menempel di pakaian, rambut, kendaraan, atau ruangan menjadi salah satu alasan utama mereka mulai mencari alternatif. Dalam pengalaman konsumen, produk tembakau alternatif dianggap lebih nyaman karena tidak menghasilkan asap hasil pembakaran tembakau seperti rokok,” katanya.
Sejumlah penelitian juga mencoba mengkaji karakteristik emisi yang dihasilkan produk tembakau alternatif. Salah satunya riset Universitas Chang’an, Tiongkok, berjudul Characteristics of Second-hand Exposure to Aerosols from E-cigarettes yang dipublikasikan pada 2024. Penelitian tersebut menemukan bahwa aerosol dari rokok elektronik tetap melepaskan partikel ke udara, namun tingkat beberapa polutan yang terdeteksi lebih rendah dibandingkan asap hasil pembakaran rokok konvensional.
Pengalaman serupa dirasakan Rifqi, seorang pengguna vape yang mengaku mulai beralih dari rokok konvensional beberapa waktu lalu. Ia menilai perubahan yang dirasakan tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan penggunaan, tetapi juga kondisi fisik dalam aktivitas sehari-hari.
“Perubahan yang paling saya rasa jelas badan terasa lebih fit. Ternyata pembuktiannya ada di hasil medical check-up, hasil berubah jauh lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya saat masih merokok,” ujarnya.
Rifqi menambahkan proses beralih dari kebiasaan merokok tidak hanya dipengaruhi oleh pilihan produk, tetapi juga dukungan lingkungan sekitar.
“Peran orang terdekat dalam mendukung sangat penting, tapi yang lebih penting adalah lingkungan keseharian kita dalam bersosialisasi karena tanpa dukungan mereka mustahil rasanya bisa beralih tanpa tekad yang sangat besar,” katanya.
Menurutnya, akses terhadap informasi dan hasil penelitian juga menjadi faktor yang membantu perokok dewasa memahami berbagai pilihan yang tersedia sebelum memutuskan untuk beralih dari rokok konvensional. (E-3)
