
MEMBANGUN kebiasaan finansial yang sehat tidak seharusnya dimulai saat seseorang sudah memiliki penghasilan sendiri. Sebaliknya, fondasi keuangan yang kuat justru perlu diletakkan sejak masa kanak-kanak melalui peran aktif orang tua di dalam keluarga.
Perencana keuangan sekaligus Pendiri DNA Finance Indonesia, Aliyah Natasya, menekankan bahwa membekali anak dengan literasi keuangan adalah bentuk investasi jangka panjang yang sering kali diremehkan.
Menurutnya, pendidikan keuangan sejak dini membantu anak memahami nilai uang, membangun kebiasaan menabung, hingga menghargai kerja keras orang tua.
“Ini investasi jangka panjang yang sering diremehkan,” ujar Aliyah, yang merupakan lulusan MSc bidang daya saing ekonomi dan bisnis internasional dari University of Birmingham, dikutip Kamis (11/6).
Pendekatan Berdasarkan Usia
Aliyah menyarankan agar orangtua menyesuaikan cara penyampaian informasi keuangan dengan usia anak. Hal ini penting agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik tanpa memberikan beban pikiran yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
| Kelompok Usia | Materi Literasi Keuangan |
|---|---|
| Anak Usia Dini/Kecil | Mengenal konsep uang jajan, pentingnya menabung, serta membedakan antara kebutuhan dan keinginan. |
| Anak Usia Lebih Besar/Remaja | Memahami gambaran umum anggaran pendidikan dan biaya-biaya wajib yang harus dikeluarkan selama sekolah. |
Keterbukaan yang Proporsional
Lebih lanjut, Aliyah menjelaskan bahwa menerapkan prinsip keterbukaan yang proporsional mengenai kondisi keuangan keluarga dapat memberikan dampak positif.
Dengan memahami bahwa pendidikan adalah investasi yang membutuhkan perencanaan dan komitmen keuangan jangka panjang, anak akan lebih menghargai kesempatan belajar yang mereka miliki.
Pelibatan anak dalam diskusi keuangan keluarga juga dinilai mampu mendorong rasa tanggung jawab dalam menggunakan uang serta lebih bijak dalam mengambil keputusan konsumsi.
“Anak yang tumbuh dengan kesadaran finansial akan lebih siap menghadapi realitas finansial di masa dewasa,” tambahnya.
Pesan Utama: Pendidikan keuangan sebaiknya menjadi kebiasaan yang dilakukan secara konsisten dalam keluarga, bukan hanya muncul saat keluarga sedang menghadapi tekanan ekonomi atau kebutuhan yang mendesak.
Dengan menjadikan literasi keuangan sebagai bagian dari gaya hidup keluarga, anak-anak diharapkan memiliki kesiapan mental dan keterampilan manajerial yang lebih baik saat memasuki usia produktif di masa depan. (Ant/Z-1)
