Jangan Bersedih, Kawan
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MENONTON sepak bola dunia adalah menyiapkan diri diterpa paradoks. Inilah psike pertama yang dihadapi penikmat bola. Paradoks, mengalami ketegangan panjang, tapi jiwa terhibur. Statistiknya, lebih 1,5 miliar manusia menyisihkan waktu, bahkan mengorbankan jam tidur, demi ketegangan mengasyikkan, 39 hari. Piala Dunia sebelumnya, ‘hanya’ 32 hari.

Psike lainnya sisa-sisa kepedihan. Bahkan kepedihan berulang. Italia tersingkir tiga kali. Beruntun. Segunung pertanyaan. Salah pilih pelatih macam Gattuso? Seri A tidak kompetitif? Klub-klub besar tak punya akademi mumpuni?

Fabregas memberi sebagian jawaban yang sedikit atau banyak membanggakan orang Indonesia. Di Como, klub milik Djarum Group yang dilatihnya, hanya ada paling banyak empat orang Italia di skuad utama. Como, klub paling sedikit pemain lokalnya di Seri A.

Praktis tanpa pemain Italia, pencapaian Como malah mengagumkan. Masuk empat besar. Musim depan, ia pertama kali bertarung di kancah Liga Champions. Fabregas menunjukkan, Italia tak hanya krisis SDM, tapi juga krisis strategi.

Fabregas pelatih muda tak berpengalaman. Dia ditempa tiga kultur berbeda: Barcelona, Arsenal, Chelsea. Dia diarsiteki tiga macam pelatih hebat: Pep, Wenger, Mourinho. Dia ‘mengunyah’ semua itu. Dan, gemilang menerapkannya di Como.

Kepedihan tak hanya di level negara. Perih lebih menyayat di level perorangan. Awalnya bangga dipanggil masuk tim nasional. Merasakan pertandingan uji coba. Akhirnya? Tersisih. Publik mempersoalkan. Tuchel repot menjelaskan kenapa tak membawa Foden (Manchester City), Palmer (Chelsea), Trent (Real Madrid), Maguire (Manchester United).

Mengalami cedera kepedihan lainnya. Itulah nasib Xavi, gelandang tengah Tottenham. Belanda bertarung di Piala Dunia, tapi Koeman tak dapat membawanya. Ligamen lutut kanannya robek. Kiranya dia bisa menghibur diri, klub yang dibelanya berhasil keluar dari zona degradasi.

Paradoks, tegang tapi menghibur itu, terutama menyelimuti diri, ketika menyaksikan orkestrasi permainan terbuka. Saling serang. Intensitas tinggi, pressing tinggi, transisi cepat. Jantung pun berdebar kian kencang, melihat serangan balik mematikan. Bahkan, menahan napas, menutup mata, tak tahan melihat adu tendangan penalti.

Jikalau yang berhasil sampai di final bukan negara unggulan, itulah misteri sepak bola. Pikiran lama membahasakannya, ‘bola itu bundar’.

Jikalau yang sampai di puncak kompetisi negara ‘superior’ dalam sepak bola, terlebih superioritas Eropa dijajal superioritas Amerika Latin, diwarnai pula superioritas pemain-pemain bintang muda cemerlang, maka ketegangan yang menghibur itu rasanya mencapai puncak ekstasi.

Yang muda yang cemerlang itu sungguh layak dinantikan. Di kaki pemain macam Olise (Prancis) dan Yamal (Spanyol), terekspresikan semacam ‘seni’ –kecanggihan melampaui teknik/skill. Kaki itu menyimpan kecerdasan bersumber dari kecerdasan intelek membaca jalannya pertandingan. Kita berdecak kagum.

Yang kagum tak hanya publik sepak bola dengan mata awam, tapi juga mata jeli pengamat bakat dan pembaca potensi tersembunyi. Membaca potensi tersembunyi ada ilmunya. Adam Grant menyebutnya ‘The Science of Achieving Greater Things’. Di belakang klub-klub hebat hadir orang-orang profesional macam itu.

Hasil ‘talent scouting‘ tersebut masukan bagi manajemen klub menyusun skuad terbaru. Bagi pemilik klub, penilaian itu bermanfaat bagi bisnis. Sepak bola modern adalah industri. Membeli pemain muda cemerlang, bercahaya di pasar primer, merupakan investasi. Piala Dunia panggung ‘wonderkids‘, ‘star‘ di masa depan.

Nilai ekonomi yang muda itu bisa menjulang dalam tempo pendek. Dalam 2 tahun nilai pasar Olise meroket 2,5 kali lipat, dari 60 juta euro menjadi 150 juta euro. Berapa harga Yamal? Sekarang 200 juta euro. Berpotensi 400 juta euro. Nilai Yamal itu bisa bikin Barca mampu membeli lima pemain sekelas Gordon dari Newcastle.

Saya kali ini pegang Spanyol dan Brasil bertemu di final. Dua manajer dengan biografi kepelatihan amat kontras, Luis de La Fuente (Spanyol) dan Carlo Ancelotti (Brasil), bakal beradu kecerdasan dengan racikan berbeda. Saya membayangkan semacam El Clasico di level dunia.

Carlo, 67 tahun, jelas pelatih nama besar. Dia peraih banyak trofi bersama AC Milan, Chelsea, Paris Saint-Germain, Bayern Muenchen, dan Real Madrid. Dia tersukses dalam sejarah Liga Champions dengan lima gelar juara. Ini pertama kali dia memimpin tim negara bukan kebangsaannya. Ia mempertaruhkan reputasinya. Dia diyakini mampu mengembalikan kebesaran Brasil.

Nama besar, ego besar, perkara besar bagi tim bertabur bintang seperti Brasil. Hasilnya bisa nol besar. Kalau Mbappe masih di Paris, PSG tak bakal meraih trofi Champions. Carlo paham benar urusan ego besar ini.

De la Fuente, 65 tahun, bukan nama besar. Dia pelatih tim junior (U-19, U-21, U-23) yang kemudian naik kelas menjadi manajer La Furia Roja. Namanya tak terdengar, sampai kemudian, seakan tiba-tiba, ia mengejutkan dunia, membawa Spanyol menjuarai Euro 2024. (Baiklah kiranya dipertimbangkan, Indonesia memilih trajektori kepelatihan tim nasional, model Spanyol ini).

Fuente piawai meracik pemain senior dan junior menjadi tim solid dan kuat di semua lini. Dia tegas dengan skema. Dia tak membawa satu pun pemain Real Madrid. Performa mereka di kompetisi menurun. Menjelang turnamen dunia, kebugaran buruk. Tidak sesuai kebutuhan taktik tim: menekan lebih keras, bergerak lebih cepat.

Brasil, negara besar dalam sepak bola, rupanya telah putus asa dengan pelatih buatan negeri sendiri sehingga harus mengimpor dari Italia. Ironisnya, Italia sendiri yang juga negara besar dalam sepak bola, gagal total. Terbetik informasi, negara piza itu bakal melirik manajer dari negara lain. Rafael Benitez, tertarik. Orang Spanyol ini, mantan manajer Liverpool, Real Madrid, dan Inter Milan.

Spanyol kini negara tersubur penghasil manajer sepak bola papan atas, terutama bersaing di Inggris. Mereka adalah Arteta (Arsenal), Alonso (Chelsea), Emery (Aston Villa), dan Iraola (Liverpool). Di luar Inggris, Enrique (PSG) yang membuat sejarah baru di Eropa. Dan, kita tidak tahu ke mana Pep berlabuh di masa depan.

Menimbang daya tampung stadion, kiranya jumlah penonton final Piala Dunia 2026 tak berbeda signifikan dengan jumlah penonton Piala Dunia 2022. Stadion Lusail, Qatar, menampung 80.000 penonton, sedangkan MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat, 82.500 penonton.

Final di Qatar penuh sesak, memecahkan rekor. Masuk akal. Di final itu, bertarung Argentina dan Prancis, dua kampiun sepak bola dunia. Di laga itu pula, bertemu superbintang Messi dan Mbappe.

Yang mencolok berbeda harga tiket. Tiket termahal final Piala Dunia 2022 di Qatar Rp25 juta (kurs waktu itu). Harga tiket termahal final Piala Dunia 2026 di New Jersey US$32.970 atau setara Rp560 juta (kurs Rp17.000). Itulah ‘opium’ termahal yang dibayar pecandu sepak bola.

Bagi penggemar sepak bola Indonesia yang hidup di batas UMR Rp2.500.000, nilai satu tiket termahal itu setara hidup 224 bulan atau 18,6 tahun. Bukan hidup yang pendek. Bukan pula impian yang dapat diraih oleh kebanyakan anak bangsa. Tak usah bersedih, kawan. Jangan jadi pungguk merindukan bulan di New Jersey. Tontonlah perhelatan akbar itu di rumah saja.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *