Tangerang Gencarkan Sistem Pertanian Terpadu untuk Perkuat Pangan
Petani memanggul karung berisi jagung pulut usai panen di Sepatan, Kabupaten Tangerang, Banten.(Antara)

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Tangerang, Provinsi Banten, mulai menggencarkan penerapan sistem pertanian terpadu atau integrated farming sebagai mendukung penguatan ketahanan pangan di daerahnya tersebut.

  

Kepala Bidang Penyuluhan Pertanian, Endang Setiawan di Tangerang, Sabtu (6/6) mengatakan, bahwa skema yang mengintegrasikan pertanian dengan peternakan serta perikanan dalam satu kawasan ini akan mendorong generasi muda ikut bertani sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah yang adaptif terhadap teknologi dan inovasi pertanian modern.

  

“Kami ingin membangun sebuah model pertanian modern yang sukses terlebih dahulu di sini. Ke depan, konsep ini akan menjadi percontohan dan kiblat yang siap direplikasi di kecamatan-kecamatan lain di seluruh wilayah Kabupaten Tangerang,” jelasnya.

  

Ia menegaskan bahwa kegiatan pelatihan terkait skema pertanian terpadu itu diterapkan di Desa Margasari, Kecamatan Tigaraksa. Dimana, ini bukan sekadar pelatihan musiman, melainkan sebuah proyek percontohan strategis yang dipersiapkan matang untuk masa depan agribisnis daerah.

  

Endang juga menambahkan, pemilihan konsep integrated farming dinilai sangat tepat bagi petani milenial karena menawarkan solusi keterbatasan lahan lewat efisiensi tinggi, di mana sektor pertanian, peternakan, dan perikanan saling menyokong dalam satu ekosistem zero waste (tanpa limbah).

  

Dalam ini, pihaknya menyoroti tantangan besar sektor pertanian, yaitu penurunan jumlah petani usia produktif dan kebutuhan pangan yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk Kabupaten Tangerang.

“Kami optimistis, lewat tangan-tangan kreatif petani milenial yang dibekali ilmu integrated farming ini, citra pertanian akan naik kelas. bertani itu keren, canggih, dan sangat menjanjikan secara ekonomi,” ujarnya.

  

Sementara itu, Ketua Taruna Tani Milenial Al-Prakasa, Satria Gusputra, bahwa saat ini alat pertanian yang digunakan oleh kelompoknya sebagian besar masih manual, dan dirinya sudah menatap masa depan pertanian desa dengan visi yang futuristik.

  

“Harapan ke depan, konsep pertanian modern yang kami rancang bisa berjalan sepenuhnya. Kami ingin menerapkan sistem pertanian berbasis digitalisasi dan serba otomatis, di mana teknologi internet (Internet of Things) yang akan bermain dan mengendalikan sistem di lahan kami,” kata dia. (Ant/E-2)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *