
BAGI para pencinta kucing, mendengar suara dengkuran halus atau purring saat si anabul sedang manja adalah momen yang sangat menenangkan. Mayoritas suara yang dikeluarkan kucing, seperti ngeongan, pekikan, hingga desisan, terjadi dengan cara yang sama seperti manusia berbicara, yaitu saat mengembuskan napas. Namun, suara dengkuran kucing ternyata menyimpan keunikan tersendiri yang sangat berbeda.
Bagaimana sebenarnya cara kucing mendengkur, dan apa alasan di balik suara ritmis tersebut?
Anatomi di Balik Dengkuran
Secara umum, kucing memproduksi suara menggunakan laring atau kotak suara yang terletak di tenggorokan. Saat mengeong, otot-otot laring akan bergetar ketika udara dipaksa keluar saat mengembuskan napas. Namun, berbeda dengan ngeongan yang hanya terjadi saat membuang napas, suara dengkuran dapat diproduksi baik saat kucing sedang menarik maupun mengembuskan napas.
Proses mendengkur ini bermula dari getaran otot-otot pada pita suara seiring dengan keluar masuknya udara. Menariknya, sumber suara dengkuran yang dalam itu justru berasal dari tulang mereka.
Kucing memiliki struktur anatomi bernama tulang hyoid yang terletak di bagian belakang tenggorokan untuk menopang lidah dan laring. Ketika getaran dari pita suara kucing mengenai tulang hyoid yang kaku ini, terjadilah efek resonansi yang menghasilkan suara dengkuran berfrekuensi rendah.
Tidak Semua Kucing Bisa Mendengkur
Meski suara ini identik dengan kucing rumahan, nyatanya tidak semua spesies dalam keluarga kucing (Felidae) bisa mendengkur. Keluarga kucing terbagi menjadi dua subfamili berdasarkan kemampuan suara yang mereka miliki.
Kelompok pertama adalah kucing yang bisa mendengkur (Felinae). Selain kucing domestik, kelompok ini juga mencakup beberapa kucing liar seperti cheetah, serval, bobcat, hingga puma. Meskipun puma bisa memiliki bobot tubuh mencapai lebih dari 90 kilogram, mereka tetap masuk dalam kategori kucing yang bisa mendengkur.
Kelompok kedua adalah kucing yang bisa mengaum (Pantherinae). Kelompok ini diisi oleh jajaran kucing besar legendaris seperti jaguar, macan tutul, singa, dan harimau. Mereka tidak akan pernah bisa mendengkur sebahagia apa pun kondisinya.
Perbedaan ini kembali lagi pada struktur tulang hyoid mereka. Pada kucing yang mendengkur, tulang hyoid berbentuk kaku dan mengeras sempurna. Sementara pada kucing besar, tulang hyoid tidak mengeras sepenuhnya, sehingga saluran suara mereka bisa memanjang dan menghasilkan auman yang menggelegar.
Dengkuran Sebagai Alat Terapi Kesehatan
Banyak orang mengira kucing hanya mendengkur saat merasa bahagia dan nyaman. Faktanya, kucing juga kerap mendengkur sesaat sebelum diberi makan, atau bahkan saat mereka merasa gugup di perjalanan menuju dokter hewan.
Dari sudut pandang evolusi, mendengkur diyakini memiliki fungsi yang jauh lebih mendalam, yaitu sebagai mekanisme penyembuhan diri. Berdasarkan riset dari Elizabeth von Muggenthaler, seorang pakar bio-akustik yang meneliti suara hewan, dengkuran kucing memiliki frekuensi konstan antara 25 hingga 150 Hertz.
Frekuensi di rentang tersebut telah terbukti secara ilmiah dapat menstimulasi pertumbuhan tulang, mempercepat penyembuhan jaringan, dan meredakan rasa sakit. Karena kucing menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan bersantai, mendengkur menjadi cara efisien bagi mereka untuk menjaga kebugaran tubuh tanpa harus membuang banyak energi.
Kabar baiknya, manfaat magis ini tidak hanya dirasakan oleh si kucing. Berbagai studi menunjukkan bahwa pemilik kucing yang sering mendengarkan dengkuran peliharaannya memiliki tekanan darah yang lebih stabil serta risiko penyakit jantung yang lebih rendah. (Earth/Z-2)
