Inovasi dan Eksplorasi Jadi Kunci Jaga Keberlanjutan Industri Migas
ilustrasi(Pertamina EP)

Keberlanjutan industri minyak dan gas bumi (migas) tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mempertahankan tingkat produksi, tetapi juga oleh keberhasilan menemukan sumber daya baru serta menerapkan inovasi yang mampu meningkatkan efisiensi operasi. Dalam menghadapi tantangan energi global, perusahaan migas dituntut untuk terus beradaptasi melalui transformasi operasional yang lebih efektif, aman, dan berkelanjutan.

Penguatan eksplorasi, pengembangan lapangan, serta pemanfaatan teknologi menjadi strategi penting untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus memastikan keberlangsungan bisnis di masa depan. Komitmen tersebut menjadi salah satu fokus yang disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 PT Pertamina EP yang digelar di Jakarta pada Kamis (5/6). Dalam rapat tersebut, perusahaan memaparkan berbagai capaian sepanjang 2025 yang mencakup kinerja produksi, kegiatan eksplorasi, keselamatan kerja, kinerja keuangan, hingga pelaksanaan program tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Direktur Utama PT Pertamina EP, Rachmat Hidajat, menjelaskan bahwa selama 2025 perusahaan mengelola fasilitas hulu migas yang tersebar di lima aset dan 22 lapangan operasi, baik di darat maupun lepas pantai, yang berada di 13 provinsi.

Dari aktivitas tersebut, perusahaan membukukan produksi minyak sebesar 68.338 barel per hari (BOPD), produksi gas mencapai 792 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), dan total produksi migas sebesar 205 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD). Pencapaian tersebut didukung oleh pengeboran 12 sumur eksplorasi dan 137 sumur pengembangan sepanjang tahun. Selain itu, perusahaan juga melakukan akuisisi data seismik dua dimensi sepanjang 113 kilometer serta survei seismik tiga dimensi seluas 79 kilometer persegi guna mendukung kegiatan eksplorasi.

Melalui berbagai aktivitas tersebut, Pertamina EP berhasil menemukan sumber daya 2C sebesar 133 juta barel setara minyak (MMBOE) dan menambah cadangan terbukti atau proven reserve (P1) sebesar 59 MMBOE.

“Capaian sepanjang tahun lalu mencerminkan kemampuan Pertamina EP dalam menghadirkan inovasi operasional yang terukur, menjaga keandalan kinerja, serta memperkuat ketahanan portofolio hulu. Melalui inovasi yang berkelanjutan, kami memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus menata masa depan operasi migas yang lebih berkelanjutan dan resilien,” ujar Rachmat Hidajat.

Komitmen terhadap inovasi juga ditunjukkan melalui keberhasilan onstream perdana produksi cairan di Stasiun Pengumpul Akasia Bagus (SP ABG) Stage 1 yang berada di Lapangan Jatibarang, Kabupaten Indramayu.

Fasilitas tersebut menghasilkan sekitar 400 barel fluida per hari dengan kapasitas terpasang mencapai 7.250 barel liquid per day (BLPD) dan menjadi bagian dari program Optimasi Pengembangan Lapangan Akasia Bagus–Gantar.

Menurut Rachmat, keberhasilan tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengembangkan cadangan sekaligus meningkatkan kapasitas produksi melalui berbagai inovasi operasional.

Seluruh proses pengembangan dijalankan dengan disiplin tinggi dan didukung capaian lebih dari 2,2 juta jam kerja aman tanpa Lost Time Injury (LTI) serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

“Pendekatan ini memastikan setiap fasilitas kami beroperasi sesuai standar kualitas, kapasitas desain, dan kesiapan jangka panjang, demi operasi hulu migas perusahaan yang berkelanjutan,” katanya.

RUPST juga menegaskan arah transformasi perusahaan yang terus dilakukan secara adaptif melalui penguatan produksi, eksplorasi, penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG), standar Health, Safety, Security and Environment (HSSE), serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional. Dari sisi korporasi, perusahaan berhasil memperoleh peringkat kredit AAA atau kategori sangat sehat dari Fitch Ratings Indonesia, yang menjadi pengakuan atas kuatnya fundamental bisnis dan tata kelola perusahaan.

Pada aspek keselamatan kerja dan lingkungan, perusahaan mencatat lebih dari 3,12 juta jam kerja aman sepanjang 2025 serta meraih 17 penghargaan PROPER Hijau dan empat PROPER Biru dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Komitmen terhadap keberlanjutan juga diwujudkan melalui pelaksanaan 444 program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang mencakup sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, infrastruktur, hingga penanggulangan bencana di 30 kabupaten dan kota pada 13 provinsi wilayah operasi perusahaan. Secara keseluruhan, program tersebut telah memberikan manfaat kepada lebih dari 40 ribu penerima manfaat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Komisaris Utama PT Pertamina EP, Morry Ermond, menilai perusahaan berhasil menjaga kinerja operasional dan bisnis di tengah berbagai tantangan eksternal yang terjadi sepanjang tahun lalu.

“Sepanjang 2025, perusahaan telah menunjukkan performa yang efektif dalam menjaga keberlangsungan usaha dan mencapai hasil yang optimal, meskipun mengalami berbagai tantangan eksternal, baik di dalam maupun luar negeri,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan pemegang saham utama dari PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Caesarian selaku VP Controller PHE, menyampaikan apresiasi atas peningkatan produksi minyak, stabilitas produksi gas, serta capaian penambahan cadangan yang melampaui target perusahaan.

“Untuk tahun 2026 ini, pemegang saham mengharapkan perusahaan dapat terus melaksanakan akselerasi transformasi bisnis, menguatkan implementasi prinsip HSSE, meningkatkan upaya untuk mencapai target temuan sumber daya 2C, dan meningkatkan kinerja produksi yang berdampak pada peningkatan laba perusahaan,” kata Caesarian.

Melalui RUPST Tahun Buku 2025, Pertamina EP kembali menegaskan komitmennya untuk memperkuat operasi hulu migas yang aman, andal, efisien, dan berkelanjutan melalui inovasi, percepatan transformasi bisnis, serta penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) guna mendukung ketahanan energi nasional. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *