Teror Pemukim Israel di Tepi Barat: Penghancuran Sistematis Sektor Peternakan Palestina
Warga Tepi Barat.(Al Jazeera)

MUKHLIS Masa’id, warga Khirbet Yarza di wilayah pendudukan Tepi Barat, Palestina, kini hidup dalam duka mendalam. Sejak tiga tahun terakhir, serangan pemukim Israel terhadap komunitasnya di Lembah Yordan (Jordan Valley) kian intensif, menghancurkan sendi-sendi kehidupan yang telah dibangun selama beberapa generasi.

Masa’id dan warga Palestina lain menyaksikan dengan mata kepala sendiri para pemukim menghancurkan tanaman, menyerang rumah, hingga menganiaya penggembala dan petani di lahan penggembalaan. Puncaknya, pada Maret 2026, sebanyak 14 keluarga yang terdiri dari sekitar 100 jiwa terpaksa meninggalkan desa mereka setelah tidak lagi mampu menahan serangan harian yang sistematis.

Kampanye Intimidasi yang Terorganisasi

Serangan ini bukan sekadar insiden acak, melainkan bagian dari kampanye intimidasi yang terorganisasi untuk mengusir komunitas petani Palestina dari tanah mereka. “Para pemukim memiliki sarana komunikasi yang canggih. Saat mereka menyerang penggembala, puluhan dari mereka berkumpul untuk mengintimidasi. Sementara itu, kami tidak memiliki transportasi untuk mencapai lokasi dan melindungi penggembala kami,” ujar Masa’id kepada Al Jazeera.

Selain kekerasan fisik, para pemukim juga mencuri ratusan domba dan sapi yang merupakan urat nadi ekonomi masyarakat. Setelah mengungsi ke wilayah Tubas yang padat, penderitaan Masa’id belum berakhir. Puluhan ternaknya mati karena penyakit dan pakan yang rusak akibat tidak ada tempat penyimpanan yang layak di lokasi pengungsian.

Data Krisis: Laporan OCHA (Mei 2026) menunjukkan insiden kekerasan di Lembah Yordan melonjak drastis dari 2 kejadian per bulan pada 2020 menjadi 27 kejadian per bulan pada empat bulan pertama tahun 2026.

Target Meluas ke Area A

Pola serangan ini tidak lagi terbatas pada Area C (wilayah di bawah kendali penuh Israel), tetapi mulai merambah ke Area A yang secara teknis berada di bawah kendali Otoritas Palestina. Di Jifna, utara Ramallah, Zuhair Abu Shaar melaporkan bahwa pada 15 April lalu, sekelompok pemukim yang didukung oleh 12 kendaraan militer Israel menyerbu kandang ternaknya.

“Mereka mencuri 180 sapi, memukuli kami, dan menembak kaki tetangga saya. Mereka bahkan menodongkan senjata ke kepala saya,” ungkap Zuhair. Ia memperkirakan kerugian mencapai 450.000 shekel (sekitar Rp2,4 miliar), yang merupakan satu-satunya sumber pendapatannya.

Ancaman Ketahanan Pangan

Nidal Younis, Kepala Dewan Desa Masafer Yatta, menyatakan bahwa dalam tiga tahun terakhir, hampir seluruh lahan penggembalaan di wilayahnya dikuasai pemukim. Sebanyak 12 pos pemeriksaan baru didirikan, dan 90 persen lahan tanaman musim dingin seperti gandum dan jelai telah dirampas.

Abbas Melhem, Kepala Persatuan Asosiasi Pertanian Palestina, memperingatkan ada kehancuran total pada sektor peternakan. Data menunjukkan penurunan drastis jumlah ternak di Tepi Barat dan Jalur Gaza, dari 1,75 juta ekor empat tahun lalu menjadi hanya 480.000 ekor saat ini.

“Jika situasi ini terus berlanjut tanpa intervensi internasional, warga Palestina akan dipaksa membeli hewan kurban dari para pemukim. Kita berada di ambang kehancuran ketahanan pangan, baik di sektor tanaman maupun hewan,” tegas Melhem.

Laporan FAO tahun 2025 sebelumnya memperingatkan bahwa hampir dua pertiga dari 72.000 keluarga petani dan peternak di Tepi Barat membutuhkan bantuan darurat. Tanpa perlindungan hukum dan fisik, cara hidup yang telah bertahan selama berabad-abad di Palestina kini terancam punah sepenuhnya. (Al Jazeera/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *