PMI Manufaktur Naik, Apindo: Belum Pemulihan yang Kuat
ilustrasi(Antara)

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani menyatakan bahwa capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang naik dari 49,1 menjadi 50,0 poin sebagai sinyal stabilisasi setelah kontraksi. Namun, kata Shinta, hal tersebut belum dapat diartikan sebagai pemulihan yang sepenuhnya kuat dan berkelanjutan. 

“Angka 50,0 masih berada tepat di ambang batas antara kontraksi dan ekspansi, sehingga perlu dicermati secara hati-hati. Bahkan jika melihat komponen-komponen di dalam survei, sejumlah indikator masih menunjukkan tekanan, seperti output yang turun selama tiga bulan berturut-turut, penurunan pembelian bahan baku, berkurangnya inventori input, penurunan tenaga kerja, serta kontraksi ekspor yang menjadi yang terdalam sejak Agustus 2021. Karena itu, kami memandang kondisi saat ini lebih mencerminkan proses stabilisasi dibandingkan fase ekspansi yang sudah solid,” ucap Shinta saat dihubungi, Rabu (3/6).

Sebagaimana diketahui, perbaikan PMI manufaktur Indonesia pada Mei 2026 terutama ditopang oleh meningkatnya permintaan domestik dan pesanan baru yang tumbuh selama dua bulan berturut-turut. Hal ini menunjukkan bahwa pasar domestik masih menjadi penyangga utama aktivitas manufaktur nasional. 

Namun demikian, perbaikan tersebut belum sepenuhnya merata karena permintaan eksternal masih menghadapi tekanan yang cukup besar. Kondisi global yang belum stabil, termasuk gangguan geopolitik dan perlambatan di sejumlah pasar utama, masih membebani kinerja ekspor manufaktur Indonesia.

Di sisi lain, lanjut Shinta, tantangan terbesar yang saat ini dihadapi dunia usaha justru berasal dari sisi biaya. PMI mencatat inflasi biaya input pada level tertinggi sejak 2013, didorong oleh kenaikan harga bahan baku, keterbatasan pasokan, serta gangguan rantai pasok global. Dalam kondisi tersebut, pelaku industri terus melakukan berbagai langkah efisiensi, diversifikasi sumber pasokan, penguatan manajemen persediaan, serta peningkatan produktivitas untuk menjaga daya saing. 

“Namun tekanan biaya tetap menjadi perhatian serius, terlebih dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan harga input impor. Dengan sekitar 70% kebutuhan bahan baku dan barang antara industri nasional masih berasal dari impor, volatilitas nilai tukar memiliki dampak langsung terhadap struktur biaya produksi manufaktur,” terangnya.

Hingga awal Juni 2026, rupiah masih menunjukkan tren tekanan dan telah bergerak di atas level Rp17.850 per dolar AS. Oleh karena itu, Shinta menekankan bahwa stabilitas nilai tukar akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberlanjutan pemulihan manufaktur ke depan.

“Apabila PMI mampu bergerak lebih konsisten ke zona ekspansi dalam beberapa bulan mendatang, kami memperkirakan sektor-sektor yang didorong oleh konsumsi domestik akan menjadi motor utama pertumbuhan,” tuturnya

Shinta menilai, industri makanan dan minuman, serta sektor-sektor yang terkait dengan aktivitas konsumsi rumah tangga dan investasi domestik berpotensi menunjukkan kinerja yang lebih baik. Selain itu, sektor yang memiliki tingkat kandungan lokal lebih tinggi akan relatif lebih resilien terhadap tekanan nilai tukar dan ketidakpastian global.

“Dari dunia usaha, optimisme terhadap paruh kedua tahun 2026 memang mulai membaik dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Namun optimisme tersebut masih bersifat prudent dan penuh kehati-hatian. Dunia usaha melihat adanya peluang dari membaiknya permintaan domestik, tetapi pada saat yang sama masih harus menghadapi tekanan biaya yang tinggi, volatilitas nilai tukar, ketidakpastian geopolitik global, serta pelemahan pasar ekspor,” imbuh dia.

Oleh karena itu, keberlanjutan pemulihan manufaktur akan sangat bergantung pada kemampuan menjaga stabilitas makroekonomi, memperkuat daya beli masyarakat, memastikan kelancaran pasokan bahan baku, serta menciptakan iklim investasi dan usaha yang semakin kompetitif bagi sektor industri nasional. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *